Kearifan Lokal Perlu Dikemas Kreatif agar Relevan di Era Media Sosial

  • 30 Jul 2026 19:52 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Nilai-nilai kearifan lokal dinilai tetap relevan sebagai pedoman bermedia sosial di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Hal tersebut disampaikan Ustad Ijjas Musliim, S.Sos., M.Sos (Ikatan Da'i Muda Indonesia / IDMI), dalam program Obrolan Apresiasi Budaya Lokal yang disiarkan FM 92,5 Pro 4 RRI Makassar, Selasa, 28 Juli 2026.

Menurut Ustad Ijjas Musliim, anggapan bahwa budaya lokal merupakan sesuatu yang kuno muncul karena penyampaiannya belum mengikuti perkembangan zaman. Padahal, nilai-nilai budaya seperti saling menghormati, gotong royong, dan kepedulian sosial tetap dibutuhkan sebagai landasan membangun etika generasi muda, termasuk dalam berinteraksi di media sosial.

Ia mengatakan, kearifan lokal perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih kreatif melalui konten digital, video pendek, podcast, maupun kampanye media sosial yang dekat dengan kehidupan anak muda. Dengan cara tersebut, pesan-pesan moral akan lebih mudah diterima tanpa menghilangkan makna budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

"Budaya lokal bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi pedoman hidup yang tetap relevan hingga hari ini. Jika dikemas secara kreatif melalui media sosial, nilai-nilai seperti sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge' akan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berkomunikasi dengan santun, menghargai perbedaan, serta bijak dalam menggunakan teknologi," ujar Ustad Ijjas Musliim.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ajaran agama dan budaya lokal memiliki tujuan yang sama, yakni membentuk manusia yang berakhlak mulia. Karena itu, keduanya harus berjalan berdampingan dalam membangun karakter generasi muda agar mampu menghadapi tantangan dunia digital tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai luhur bangsa.

Ustad Ijjas juga mendorong adanya kolaborasi antara tokoh agama, pegiat budaya, pendidik, komunitas, dan kreator konten dalam menghadirkan konten-konten edukatif yang menarik. Menurutnya, pendekatan yang kreatif akan membuat generasi muda lebih bangga mengenal budaya sendiri sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat bermedia sosial.

Melalui dialog di Pro 4 RRI Makassar, masyarakat diajak menjadikan kearifan lokal sebagai kekuatan untuk membangun budaya digital yang santun, beretika, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi ruang berekspresi, tetapi juga menjadi sarana melestarikan budaya serta memperkuat karakter generasi muda Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....