Cara Memilah Sampah Rumah Tangga sebelum Diangkut ke TPA
- 27 Jul 2026 18:16 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Persoalan penumpukan sampah hingga kini masih menjadi tantangan global yang memerlukan perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat. Langkah paling mendasar yang seharusnya dilakukan adalah meninjau kembali pola konsumsi dengan membatasi pembelian barang yang tidak perlu, memilih produk ramah lingkungan, serta menghindari kemasan sekali pakai.
Setiap individu dituntut untuk bertanggung jawab penuh atas limbah yang dihasilkan sehari-hari secara sadar. Kebiasaan sekadar membuang sampah pada tempatnya kini dinilai tidak lagi memadai, sebab campuran sampah organik dan anorganik yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) memicu pelepasan gas beracun penyebab efek rumah kaca dan perubahan iklim.
Selain memicu bencana alam seperti banjir dan mencemari ekosistem, tumpukan sampah juga memperburuk kualitas udara dan mengancam pasokan oksigen bersih bagi kehidupan. Memilah sampah langsung dari rumah menjadi opsi terdekat dan paling praktis untuk meredam krisis lingkungan tersebut.
Praktik pemilahan ini efektif mencegah percampuran sampah basah dan kering yang berpotensi menjadi sarang bakteri serta sumber bau tak sedap. Di samping itu, memisahkan limbah sejak awal juga meminimalisir risiko bahaya material beracun, mempermudah proses daur ulang, serta memangkas volume sampah yang harus berakhir di TPA.
Dikutip dari website zero waste.id, ada beberapa macam sampah yang harus di pilah yaitu Kategori pertama yang perlu dipilah adalah sampah organik, yaitu bahan-bahan terurai secara biologis seperti sisa makanan, dedaunan, maupun ranting pohon. Sampah organik ini terbagi menjadi dua kelompok, yakni sampah organik basah (sisa makanan berkuah, kaldu, dan tulang) serta sampah organik kering (kulit buah, ranting, dedaunan, dan sisa sayuran segar).
Setelah dipilah, sampah organik tak sekadar dibiarkan, melainkan dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk kompos, media regrow tanaman, pembuatan veggie stock, atau diolah menjadi cairan serbaguna Eco-Enzyme. Berbeda dengan sampah organik, kategori sampah anorganik meliputi material yang sulit terurai secara alami seperti kemasan kaleng, plastik, dan kertas.
Penanganan sampah anorganik membutuhkan tiga langkah ringkas yaitu dikumpulkan, dipisahkan, dan dibersihkan dari sisa kotoran. Khusus untuk sampah kaleng (seperti kaleng susu atau biskuit), setelah dicuci dan dikeringkan dapat dimanfaatkan kembali (reuse) sebagai wadah alat tulis atau disetorkan ke bank sampah untuk didaur ulang (recycle).
Sementara itu, untuk jenis sampah plastik yang mendominasi limbah rumah tangga mulai dari kantong plastik, kemasan minyak goreng, hingga stereofom penanganannya memerlukan ketelitian ekstra. Selain dimanfaatkan menjadi pot tanaman, plastik bersih dan kering dapat dirangkai menjadi ecobrick, yaitu botol plastik yang diisi padat dengan limbah plastik hingga memiliki kerapatan tertentu.
Hasil kreasi ecobrick ini sangat tangguh dan dapat difungsikan sebagai pengganti bata bangunan atau furnitur yang ramah lingkungan. Untuk kemasan karton berlapis seperti tetra pack yang biasa digunakan pada produk susu dan jus, masyarakat diimbau untuk membersihkannya sebelum diserahkan ke fasilitas drop-box atau bank sampah terdekat.
Di sisi lain, sampah elektronik (E-waste) seperti baterai bekas, pengisi daya, dan power bank tidak boleh dibuang sembarangan karena mengandung potensi bahaya arus listrik dan kimia. Limbah jenis ini idealnya dikumpulkan dan disetorkan ke bank sampah khusus yang mengelola limbah elektronik secara aman.
Permasalahan mendesak lainnya muncul dari limbah produk sanitasi sekali pakai seperti pembalut wanita dan popok bayi (diaper) yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Selain dampaknya terhadap pencemaran tanah dan risiko kesehatan, penggunaan alternatif ramah lingkungan seperti reusable menstrual pads, menstrual cup, dan popok kain (clodi) sangat disarankan.
Namun jika masih menghasilkan limbah pembalut atau diaper sekali pakai, bagian hidrogel di dalamnya dapat diolah menjadi media tanam pupuk melalui pemprosesan bersama air kelapa dan EM4 selama 15 hari, sementara lapisan luarnya dicuci bersih untuk bahan kreasi kerajinan.
Jenis sampah terakhir yang tak kalah krusial untuk dipilah adalah Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), salah satu contohnya yaitu obat-obatan yang telah kadaluarsa. Pembuangan limbah B3 secara sembarangan sangat berisiko mencemari lingkungan dan air tanah.
Masyarakat disarankan mengumpulkan obat kadaluarsa tersebut untuk kemudian diserahkan kepada Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat agar dapat dimusnahkan secara aman dan profesional melalui prosedur pemusnahan medis standar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....