Mahasiswa Unhas Kembangkan PLASTERA, Atasi Limbah Popok yang Mengkhawatirkan
- 27 Jul 2026 18:00 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi ramah lingkungan bernama PLASTERA (Plastic Decomposer Era), sebuah pembungkus Limbah Popok berbasis biokomposit yang dirancang untuk membantu mengurangi dampak pencemaran dari sampah popok sekali pakai. Inovasi ini memanfaatkan bahan-bahan organik seperti kulit singkong, cangkang telur, dan eco-enzyme untuk mendukung proses biodegradasi sehingga lebih ramah terhadap lingkungan.
PLASTERA dikembangkan oleh tim mahasiswa lintas disiplin ilmu sebagai respons atas meningkatnya persoalan Limbah Popok di Indonesia. Selama ini, popok sekali pakai menjadi pilihan utama banyak keluarga karena dinilai praktis dan efisien dalam merawat bayi. Namun, di balik kemudahan tersebut, popok sekali pakai menyumbang volume sampah yang terus meningkat setiap tahunnya dan menjadi salah satu jenis limbah rumah tangga yang paling sulit diurai secara alami.
Popok modern tersusun dari kombinasi plastik dan material penyerap sintetis yang membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di lingkungan. Kondisi tersebut menjadikan Limbah Popok sebagai tantangan besar dalam pengelolaan sampah nasional. Berbagai kajian menunjukkan bahwa limbah berbasis plastik dapat bertahan hingga ratusan tahun sebelum terurai sempurna, sehingga berpotensi mencemari tanah, sungai, hingga ekosistem laut apabila tidak dikelola dengan baik.
Indonesia sendiri menghasilkan sekitar 7,8 hingga 9,2 juta ton limbah plastik setiap tahun dan sebagian besar masih belum tertangani secara optimal. Di sisi lain, tingginya angka kelahiran juga berkontribusi terhadap peningkatan jumlah Limbah Popok. Dengan estimasi 4,4 hingga 4,8 juta bayi lahir sepanjang 2025 dan rata-rata penggunaan lima hingga delapan popok per hari pada tahun pertama kehidupan, diperkirakan terdapat sekitar 22,5 hingga 36 juta popok sekali pakai yang menjadi sampah setiap hari atau mencapai sekitar 8,1 hingga 13,1 miliar popok setiap tahunnya.
Ketua tim PKM-K Unhas, Andi Aliyah Tenri Awaru, mengatakan PLASTERA lahir dari kebutuhan nyata masyarakat terhadap solusi pengelolaan Limbah Popok yang lebih berkelanjutan. "Kami melihat persoalan limbah popok sering kali luput dari perhatian, padahal volumenya sangat besar dan dampaknya terhadap lingkungan tidak kecil. Melalui PLASTERA kami ingin menghadirkan solusi sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko pencemaran sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan limbah," ujar Aliyah.
Ia menjelaskan, secara ilmiah PLASTERA memanfaatkan karakteristik berbagai biomaterial yang memiliki kemampuan terurai secara alami. Pati hasil ekstraksi kulit singkong digunakan sebagai bahan utama pembentuk bioplastik yang lebih mudah terdegradasi dibandingkan plastik berbasis minyak bumi. Sementara serbuk cangkang telur dimanfaatkan untuk memperkuat struktur material agar lebih kokoh, sedangkan eco-enzyme ditambahkan untuk menciptakan kondisi yang mendukung aktivitas mikroorganisme dalam proses penguraian limbah organik.
"Pati dari kulit singkong berfungsi sebagai bahan utama bioplastik yang lebih mudah terurai. Serbuk cangkang telur meningkatkan kekuatan material, sedangkan eco-enzyme kami integrasikan untuk mendukung proses biodegradasi sehingga pembungkus ini memiliki nilai tambah dari sisi lingkungan," jelasnya.
Selain mengedepankan aspek keberlanjutan, PLASTERA juga dirancang agar praktis digunakan masyarakat. Kantong pembungkus dilengkapi perekat sehingga Limbah Popok dapat ditutup lebih rapat untuk membantu mengurangi bau tidak sedap. Desainnya yang ringkas juga memudahkan pengguna membawa pembungkus tersebut saat bepergian maupun beraktivitas di luar rumah.
Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa inovasi material bukan satu-satunya jawaban dalam menyelesaikan persoalan Limbah Popok. Menurut mereka, perubahan perilaku masyarakat tetap menjadi faktor utama, mulai dari membiasakan pemilahan sampah, membuang popok pada tempat yang sesuai, hingga mendukung sistem pengelolaan limbah yang lebih baik di tingkat daerah.
Untuk memperluas pemanfaatan PLASTERA, tim PKM-K Unhas berencana memperkenalkan produk tersebut melalui media sosial, marketplace, bazar, hingga berbagai pameran kewirausahaan mahasiswa. Upaya edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan Limbah Popok juga akan menjadi bagian dari strategi pengembangan inovasi tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Dosen pendamping tim, Nursinah Amir, berharap inovasi mahasiswa ini tidak berhenti pada ajang Program Kreativitas Mahasiswa, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
"Kami terus mendorong mahasiswa Unhas agar peka terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Di balik kepraktisan penggunaan popok bayi, terdapat persoalan lingkungan yang membutuhkan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Inilah bentuk nyata bagaimana sains dapat memberikan dampak langsung bagi kehidupan," kata Nursinah.
Ia menambahkan, pengembangan PLASTERA menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa tidak hanya berorientasi pada penciptaan produk, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan. Di tengah meningkatnya volume Limbah Popok sekali pakai, kolaborasi antara inovasi teknologi, edukasi publik, serta perubahan perilaku masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....