Unhas Jadi Tuan Rumah PAIR Summit 2026

  • 22 Jul 2026 20:14 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Riset tidak lagi cukup dinilai dari banyaknya publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat dan menjadi dasar penyusunan kebijakan. Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam Partnership for Australia- Research (PAIR) Summit 2026 yang digelar di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Selasa 21 Juli 2026.

Forum tahunan tersebut mempertemukan peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, serta mitra pembangunan dari Indonesia dan Australia untuk memperkuat kolaborasi riset dalam menjawab tantangan perubahan iklim, khususnya bagi masyarakat pesisir di Indonesia Timur.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., mengatakan paradigma penelitian harus bergeser dari sekadar menghasilkan luaran akademik menuju riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, di tengah kompleksitas persoalan perubahan iklim, keberhasilan penelitian diukur dari kemampuannya menjadi dasar kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).

Ia menjelaskan sejumlah penelitian dalam konsorsium PAIR telah dimanfaatkan sebagai rujukan penyusunan kebijakan di tingkat daerah. Hal tersebut menunjukkan hasil penelitian mampu melampaui ruang akademik dan berkontribusi dalam penyelesaian persoalan pembangunan.

“Inilah yang kami maksud sebagai impact, yang tidak hanya berarti memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga mampu menjadi rujukan dan memberikan manfaat bagi pemerintah dalam proses pengambilan kebijakan,” ujar Fauzan.

Fauzan juga mendorong para peneliti membangun keterhubungan antar-riset sehingga setiap penelitian saling melengkapi. Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi menjadi kunci untuk memahami persoalan perubahan iklim secara lebih komprehensif sekaligus menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Ia menambahkan, setiap penelitian perlu memiliki peta jalan dampak (pathway to impact) yang jelas agar manfaat penelitian telah dirancang sejak awal dan dapat diimplementasikan secara terukur.

“Kami berharap kolaborasi yang telah terbangun semakin kuat. Sulawesi menjadi penggagas program ini, tetapi ke depan kami ingin memperluasnya hingga Maluku dan Papua. Keberhasilan konsorsium di Indonesia Timur diharapkan dapat menjadi model bagi wilayah lain,” katanya.

Selain itu, Kemdiktisaintek juga mendorong pemanfaatan International Research Partnership Program untuk memperluas kemitraan internasional, meningkatkan mobilitas akademik, serta memperkuat diseminasi hasil riset Indonesia di forum ilmiah dunia.

Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., mengatakan perubahan iklim merupakan persoalan lintas batas yang dampaknya paling nyata dirasakan masyarakat pesisir. Kenaikan muka air laut, abrasi pantai, perubahan pola cuaca, hingga degradasi ekosistem laut membutuhkan solusi yang lahir dari kolaborasi berbagai disiplin ilmu dan lembaga.

Menurut Prof. Jamaluddin Jompa, tema perubahan iklim dan masyarakat pesisir menjadi pengingat bahwa nilai sebuah penelitian tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat.

“Sejalan dengan semangat Kampus Berdampak, kami berharap setiap riset benar-benar menghadirkan manfaat yang bermakna bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, masyarakat pesisir berada di garis depan menghadapi dampak perubahan iklim yang memengaruhi mata pencaharian, ketahanan pangan, hingga keberlanjutan kehidupan sosial dan budaya. Karena itu, PAIR menjadi wadah strategis untuk mempertemukan peneliti, pemerintah, perguruan tinggi, pelaku industri, dan masyarakat dalam menghasilkan solusi berbasis sains yang dapat diterapkan melalui kebijakan maupun aksi nyata.

Unhas dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan PAIR Summit 2026 karena keterlibatan aktifnya dalam konsorsium PAIR Sulawesi yang mengembangkan berbagai penelitian kolaboratif bersama mitra di Indonesia dan Australia.

PAIR merupakan program unggulan Australia-Indonesia Centre (AIC) yang didanai bersama oleh Pemerintah Australia dan Indonesia. Tahun ini, forum tersebut menghadirkan peneliti dari sepuluh universitas di Indonesia dan Australia serta sembilan perguruan tinggi di Sulawesi untuk mempresentasikan hasil penelitian mengenai dampak perubahan iklim terhadap masyarakat pesisir di Indonesia Timur sekaligus memperkuat kolaborasi riset lintas negara.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....