Luwu Timur Catat Inflasi Tertinggi di Sulawesi Selatan

  • 01 Jul 2026 19:22 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan merilis data inflasi gabungan 24 kabupaten/kota pada Juni 2026 sebesar 3,56 persen. Kabupaten Luwu Timur tercatat sebagai wilayah dengan inflasi tertinggi mencapai 4,32 persen, dipicu oleh naiknya Indeks Harga Konsumen hingga 113,76. Sementara itu, Kabupaten Bulukumba menjadi daerah dengan inflasi terendah di Sulsel pada periode yang sama.

Kondisi ekonomi makro ini menunjukkan pergeseran Indeks Harga Konsumen yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Pemerintah daerah kini memberikan perhatian khusus terhadap ketimpangan laju pergerakan harga barang di pasar tradisional.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan Ahriyanto menjelaskan inflasi di Sulsel dimana kabupaten Luwu Timur menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Sulsel,"Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Luwu Timur sebesar 4,32 persen dengan IHK sebesar 113,76, sedangkan untuk Bulukumba mengalami inflasi tahunan terendah sebesar 2,57 persen pada periode yang sama," jelasnya dalam keterangan resminya 1 juli 2026

Menurutnya, penyebab inflasi tinggi di Luwu Timur karena dipengaruhi beberapa penyebab, diantaranya kenaikan harga yang dipengaruhi adanya pergeseran pola konsumsi dan biaya distribusi logistik. Sebagian besar komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami lonjakan indeks hingga 5,69 persen. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya bahkan melonjak sangat tinggi mencapai 10,48 persen secara tahunan. Pergerakan angka-angka ini secara kumulatif membentuk struktur inflasi tahun kalender sebesar 2,54 persen.

Untuk itu, Ahriyanto mengingatkan pentingnya pasokan barang pokok di daerah dengan IHK tinggi. "Tingkat inflasi month to month pada Juni 2026 sebesar 0,36 persen untuk lingkup provinsi, Kenaikan bulanan yang relatif terkendali ini diharapkan bisa meredam kepanikan pasar di tingkat pedagang eceran. Tim Pengendalian Inflasi Daerah terus diarahkan untuk melakukan intervensi langsung ke pasar-pasar rakyat,”ungkapnya.

Sementara itu, Komoditas energi seperti bensin dan bahan pangan pokok menjadi pemicu utama fluktuasi harga antar-kabupaten. Sektor transportasi secara keseluruhan menyumbang andil inflasi tahunan di Sulawesi Selatan sebesar 0,32 persen. Di sisi lain, kelompok pakaian dan alas kaki memberikan andil deflasi tipis sebesar 0,03 persen. Penurunan harga sandang ini setidaknya membantu menjaga kestabilan daya beli masyarakat di daerah pesisir.

Lanjut, Ahriyanto menyarankan terkait dengan jalur distribusi antar kabupaten secara merata, "Pemerintah daerah harus segera mengevaluasi rantai pasokan bahan pokok ke wilayah Luwu Timur," paparnya Langkah antisipasi ini dinilai harus dilakukan agar inflasi bisa terkendali, sinergi antarwilayah diharapkan mampu menstabilkan Indeks Harga Konsumen menjelang kuartal ketiga tahun ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....