Menjaga Fitrah Anak di Era Digital Dimulai dari Keteladanan Orang Tua
- 28 Jun 2026 12:38 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Di tengah pesatnya perkembangan digitalisasi dan modernisasi, penggunaan gawai (gadget), media sosial, hingga pergaulan bebas kerap dianggap sebagai ancaman terbesar bagi tumbuh kembang anak. Namun, menurut Al Nur Fatmawati Abd. Fattah, S.S., C.HTh - Founder STIFIn Education, Anthurium Foundation, Silver Shiny Corporation dalam dialog Apresiasi Budaya Lokal di Pro4 RRI Makassar pada hari Jumat, 26 Juni 2026, tantangan terbesar sebenarnya bukan berasal dari luar, melainkan dari lemahnya pondasi yang dibangun di dalam keluarga.
Ia menjelaskan bahwa masa golden age, yakni usia 0 hingga 6 tahun, merupakan periode paling penting dalam pembentukan karakter anak. Pada fase tersebut, hal utama yang perlu ditanamkan bukan sekadar kemampuan akademik, melainkan nilai-nilai ketauhidan, akhlak, serta hubungan yang baik dengan orang tua.
"Pada usia emas itu, yang paling penting adalah menanamkan keimanan kepada Tuhan, sekaligus membangun akhlak yang baik. Banyak orang tua bertanya bagaimana mengenalkan Tuhan kepada anak yang belum mampu berpikir logis. Padahal, proses itu dimulai melalui keteladanan, bukan hanya melalui penjelasan," ujarnya.
Menurutnya, orang tua sering kali lebih mudah menyalahkan faktor eksternal ketika anak mengalami masalah perilaku. Gawai, media sosial, lingkungan pergaulan, hingga sekolah kerap dijadikan kambing hitam. Padahal, apabila pondasi karakter anak telah dibangun dengan kuat sejak dini, berbagai pengaruh negatif dari luar tidak akan mudah menggoyahkan dirinya.
"Kita sering menyalahkan gadget, media sosial, teman, bahkan guru atau pesantren. Padahal, jika pondasi anak kuat dari dalam, apa pun yang datang dari luar tidak akan mudah merusaknya. Pondasi itu dibangun pertama kali oleh orang tua," katanya.
Ia menambahkan bahwa kondisi emosional orang tua juga sangat memengaruhi perkembangan anak. Orang tua yang tenang akan menciptakan suasana yang menenangkan bagi anak, sementara kegelisahan orang tua akan mudah dirasakan dan ditiru oleh anak.
Sebagai contoh, ia mengangkat kisah para nabi, seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang tetap mampu membangun keluarga dengan spiritualitas yang kuat meskipun menghadapi berbagai ujian. Menurutnya, keberhasilan tersebut berawal dari kualitas keteladanan orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendidikan anak tidak cukup dilakukan melalui nasihat atau perintah. Anak lebih banyak belajar melalui apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
"Perilaku selalu berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Anak akan lebih mudah meniru dibandingkan mendengarkan nasihat. Oleh karena itu, orang tua perlu menjadi teladan dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari cara berbicara, bersikap, hingga memperlakukan orang lain. Keteladanan yang ditunjukkan secara konsisten akan membentuk karakter anak secara alami, karena nilai-nilai kehidupan lebih efektif dipelajari melalui contoh nyata daripada sekadar nasihat atau aturan yang disampaikan”. jelasnya.
Sebagai penutup, ia mengajak para orang tua untuk kembali memahami bahwa membesarkan anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan fisik, melainkan juga menjaga dan mengembangkan fitrah yang telah Allah titipkan sejak lahir. Dengan memberikan kasih sayang, keteladanan, komunikasi yang hangat, serta lingkungan yang positif, orang tua dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, percaya diri, dan mampu mengembangkan potensi terbaiknya di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....