Ali Yafid: Pesantren Harus Lahirkan Generasi Qur’ani yang Mendunia
- 25 Jun 2026 09:40 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Maros -Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan global yang semakin kompleks, pesantren kembali menegaskan perannya sebagai benteng moral sekaligus pusat lahirnya generasi unggul bangsa. Pesan itu mengemuka dalam Wisuda Santri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Ilmul Yaqin Kabupaten Maros yang dihadiri langsung Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, Rabu 24 Juni 2026.
Sebanyak 150 santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) mengikuti prosesi wisuda yang berlangsung khidmat dan penuh haru. Bagi para santri, momen tersebut bukan sekadar penanda berakhirnya masa pendidikan di pesantren, melainkan awal perjalanan baru sebagai generasi yang diharapkan mampu membawa nilai-nilai Al-Qur’an ke tengah masyarakat.
Acara tersebut turut dihadiri Ketua MUI Sulawesi Selatan, Ketua Rais Syuriah NU Sulawesi Selatan, unsur Forkopimda Kabupaten Maros, perwakilan Pemerintah Kabupaten Maros, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros, para guru, tenaga kependidikan, hingga orang tua santri yang menyaksikan langsung keberhasilan putra-putri mereka menyelesaikan pendidikan pesantren.
Dalam sambutannya, H. Ali Yafid menegaskan bahwa pesantren memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa saat ini, pesantren menjadi salah satu institusi pendidikan yang mampu menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan pembentukan karakter.
“Pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak, adab, dan karakter. Inilah yang menjadi kekuatan utama pesantren dalam mencetak generasi masa depan,” ujarnya.
Lebih jauh, Ali Yafid menilai bahwa saat ini pesantren memasuki babak baru dalam sejarah perkembangannya. Hal itu ditandai dengan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 yang memperkuat posisi pesantren melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren sebagai entitas tersendiri dalam struktur pemerintahan.
Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi bukti nyata bahwa negara semakin memberikan perhatian terhadap eksistensi dan pengembangan pesantren di Indonesia. “Ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap pesantren. Ketika pondok pesantren telah memiliki izin operasional dan data yang lengkap, maka pemerintah akan hadir memberikan dukungan untuk pengembangannya,” tegasnya.
Ali Yafid juga mengingatkan para pengelola pesantren agar tidak mengabaikan pentingnya pembaruan data kelembagaan. Di era kebijakan berbasis data saat ini, validitas data menjadi salah satu syarat utama dalam memperoleh berbagai program pembinaan dan bantuan pemerintah. Karena itu, ia meminta seluruh pesantren untuk aktif melakukan pemutakhiran data melalui sistem yang telah disediakan pemerintah agar berbagai kebutuhan dan potensi pesantren dapat terpetakan dengan baik.
Namun demikian, menurut Ali Yafid, kemajuan pesantren tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik atau peningkatan fasilitas pendidikan. Yang lebih penting adalah kualitas pembinaan santri yang mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus berakhlak mulia.
“Yang dilihat dari seorang santri bukan hanya ilmunya, tetapi juga akhlak dan adabnya. Karena itu pembinaan di pesantren harus terus ditingkatkan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa pesantren memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak lembaga pendidikan lainnya. Sistem pendidikan berbasis asrama memungkinkan proses pembinaan berlangsung selama 24 jam, sehingga santri tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Dari lingkungan seperti itulah, lanjutnya, lahir generasi yang memiliki disiplin, kemandirian, kepedulian sosial, dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai perubahan zaman.
“Pesantren harus menjadi tempat lahirnya generasi yang memiliki ilmu, keterampilan, akhlak, dan mampu memberikan kontribusi besar bagi bangsa. Kita ingin santri Sulawesi Selatan mampu bersaing hingga tingkat nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Ilmul Yaqin Maros, KH. Amirullah Amri, menyampaikan rasa syukur atas capaian para santri yang telah berhasil menyelesaikan proses pendidikan mereka.
Ia menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kerja keras santri, dukungan orang tua, dedikasi para guru, serta doa seluruh keluarga besar pesantren. “Anak-anak yang hari ini diwisuda harus mampu membawa nama baik pesantren, daerah, bahkan Indonesia. Jangan berhenti belajar, karena perjalanan menuntut ilmu masih panjang,” pesannya.
Menurut Amirullah, tantangan generasi muda ke depan semakin kompleks. Karena itu, para alumni pesantren dituntut tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan luas, kemampuan teknologi, serta kesiapan menghadapi perkembangan dunia modern.
Ia menegaskan bahwa pesantren harus terus melakukan inovasi dalam sistem pembelajaran agar mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman yang menjadi ruh pendidikan pesantren.
“Pesantren bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat membentuk karakter, kemandirian, dan menyiapkan generasi masa depan,” ungkapnya.
Wisuda 150 santri Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Ilmul Yaqin Maros tahun ini menjadi gambaran optimisme terhadap masa depan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Di tengah penguatan kebijakan pemerintah terhadap pesantren, lembaga pendidikan berbasis keagamaan ini diharapkan semakin mampu melahirkan generasi Qur’ani yang tidak hanya hafal ayat-ayat suci, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada bangsa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....