PPG UIM Gelar Workshop Kampanye Anti Bullying
- 24 Jun 2026 14:38 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID. Makassar - Prodi Pendidikan Profesi Guru (PPG) LPTK Universitas Islam Makassar menggelar workshop kampanye anti bullying di gedung rektorat UIM Lt 3, Rabu, 24 Juni 2026. Workshop ini menghadirkan praktisi anti bullying Dr Fitriyani Rachman, S.Pd., M.Pd. serta Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi Dr. Marif, SH. MH., C.Med.
Wakil Rektor dua Universitas Islam Makassar memberikan apresiasi kepada pengelola PPG yang telah melaksanakan workshop dan menghadirkan pemateri-pemateri yang handal.
“Saya memberikan apresiasi kepada pengelola PPG yang telah menggagas yang sukses melaksanakan workshop kampanye anti bullying pada mahasiswa PPG calon Guru," jelas Badruddin Kaddas.
Badruddin menambahkan, kampanye anti bullying saat ini lagi meningkat, bukan hanya di jenjang sekolah, namun pada jenjang Perguruan. Tinggi juga menjadi topik yang menarik karena trend perkembangan saat ini.
“Calon guru harus paham terhadap bentuk kegiatan perundungan, karena dampak kegiatan perundungan sangat fatal dalam perkembangan siswa. Oleh karena itu sebelum menjadi guru yang sesungguhnya maka harus memahami bentuk-bentuk kegiatan perdagangan yang terjadi di satuan pendidikan agar bisa dilakukan pencegahan perundungan di sekolah” jelas mantan dekan FKIPS UIM.
Ketua Program Studi PPG Universitas Islam Makassar memberikan apresiasi kepada semua pimpinan Universitas Islam Makassar dan pengelola PPG atas dukungan semua pihak, kegiatan workshop anti bullying untuk mahasiswa PPG Calon guru bisa terlaksana dengan Baik
“Workshop kampanye anti bullying merupakan kegiatan yang sangat esensial dilaksanakan untuk mahasiswa PPG Calon Guru. Kegiatan ini merupakan kegiatan terstruktur yang sebaiknya dilakukan oleh pengelola PPG untuk penguatan pengetahuan mahasiswa PPG” jelas Supriadi.
Narasumber pada kesempatan itu, Dr. Fitriyani, S.Pd., M.Pd., dari praktisi pendidikan sekaligus peneliti yang secara khusus mengkaji fenomena bullying dalam penelitian disertasinya. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa perundungan sering kali tidak teridentifikasi karena terselubung dalam bentuk candaan, ejekan yang dianggap biasa, maupun praktik senioritas yang telah berlangsung lama.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa korban perundungan berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri, kecemasan, gangguan kesehatan mental, penurunan prestasi belajar, hingga kesulitan membangun hubungan sosial di masa depan.
“Perundungan tidak selalu meninggalkan luka yang terlihat. Banyak korban memilih diam karena takut, malu, atau merasa tidak akan mendapatkan dukungan. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting untuk mengenali tanda-tanda yang sering kali tersembunyi,” jelas Dr. Fitriyani.
Pemateri kedua, Dr. Maarif, S.H., M.H.,selaku Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPKT) Universitas Islam Makassar, memaparkan aspek hukum, kebijakan, dan mekanisme perlindungan korban dalam lingkungan pendidikan. Ia menegaskan bahwa perundungan merupakan bentuk kekerasan yang harus ditangani secara sistematis dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.
“Ketika sekolah memiliki mekanisme perlindungan yang jelas, korban memiliki ruang untuk mendapatkan bantuan, sementara pelaku memperoleh pembinaan yang tepat. Dengan demikian, sekolah dapat menjalankan fungsinya sebagai ruang pendidikan yang aman dan bermartabat,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Dr Marif menegaskan bahwa pemahaman terhadap anti kekerasan dan perundungan menjadi perhatian bersama di sekolah dan perguruan tinggi sangat penting dipahami bersama, untuk mewujudkan zona yang bebas perundungan dan anti kekerasan di satuan pendidikan dan perguruan tinggi.
Salah seorang peserta, Arbi, mahasiswa PPG Calon Guru Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi, menilai kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai peran guru dalam perlindungan peserta didik.
“Selama ini masyarakat sering memandang tugas guru hanya mengajar. Padahal, guru juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap peserta didik merasa dihargai, diterima, dan terlindungi. Workshop ini memberikan bekal yang sangat penting bagi kami sebagai calon guru, terutama dalam menghadapi berbagai bentuk perundungan yang kini juga terjadi di ruang digital,” tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....