Cegah Pemborosan MBG melalui Optimalisasi Kantin Sekolah
- 23 Jun 2026 12:52 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menuai sorotan dari berbagai elemen masyarakat, khususnya terkait efisiensi anggaran dan mutu makanan yang disajikan. Salah satu wacana baru yang berkembang untuk mengoptimalkan program nasional ini adalah dengan memberdayakan kantin sekolah sebagai pusat pengelolaan makanan, terutama di wilayah pedesaan dan terpencil.
Pengamat Pendidikan, Abdullah Sinring dalam Program Makassar Menyapa Pagi pada Selasa, 23 Juni 2026 menilai bahwa pemanfaatan kantin sekolah merupakan langkah taktis yang sangat positif. Menurutnya, poin terpenting dari perubahan skema ini adalah kemampuannya dalam memotong mata rantai birokrasi yang berpotensi memicu pemborosan anggaran dan celah korupsi.
“MBG nya itu bagus program mulia, yang tidak bagus itu yang korupsinya atau yang mengambil keuntungan secara tidak wajar. Kalau memberikan solusi atau wacana harus ada solusinya, kalau itu tidak bisa hilang, meminimalisir mata rantai hal-hal yang sifatnya pemberosan,” jelas Abdullah.
Selain menekan risiko kebocoran anggaran, pelibatan kantin sekolah dinilai lebih mendatangkan rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap ekosistem sekolah dibandingkan menyerahkannya kepada pihak ketiga atau investor besar. Komite sekolah dan persatuan orang tua murid dapat dilibatkan secara aktif guna menjaga transparansi, kebersihan, serta mutu makanan yang disajikan sehari-hari.
Abdullah menilai langkah ini dianggap jauh lebih sehat secara sosiologis karena memberdayakan masyarakat di sekitar lingkungan institusi pendidikan tersebut. Meskipun demikian, Abdullah memberikan catatan kritis dan mengingatkan dengan tegas agar operasional kantin dalam program MBG tidak mengganggu tugas utama para guru.
Keterlibatan guru dalam program MBG di sekolah idealnya dibatasi hanya pada aspek edukasi, implementasi disiplin, dan pembentukan karakter siswa saat jam istirahat atau makan bersama tiba. Guru bertanggung jawab mendampingi anak-anak untuk belajar mengantre dengan tertib, menjaga kebersihan lingkungan, serta membiasakan diri membaca doa sebelum makan.
Lebih lanjut, Abdullah menekankan bahwa indikator keberhasilan program MBG di kantin sekolah tidak boleh hanya diukur dari kuantitas kuota distribusi data di atas kertas, melainkan dari tingkat konsumsi riil oleh para siswa. Pemerintah didesak untuk melakukan survei mendalam mengenai preferensi makanan lokal di tiap daerah agar makanan yang disajikan familiar dan tidak terbuang sia-sia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....