Momentum Tahun Baru Islam, Umat Diajak Meneladani Makna Hijrah dalam Kehidupan

  • 20 Jun 2026 13:30 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Dalam momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, umat Islam diajak untuk memaknai hijrah tidak hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai sarana untuk melakukan perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik. Hal tersebut disampaikan Dr. H. Wahyudin Hafid Lc. MA. - Dosen FAI UMI/ Pembina Pesantren UMI Darul Mukhlisin Padang Lampe - Pangkep dalam Obrolan Nuansa Fajar Pro4 RRI Makassar pada hari Jumat, 19 Juni 2026.

Dr. H. Wahyudin mengatakan bahwa Tahun Baru Islam selalu mengingatkan umat kepada peristiwa hijrah Rasulullah Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam karena menandai lahirnya peradaban Islam yang kuat dan berkembang hingga membentuk masyarakat madani yang diridai Allah SWT.

“Pergantian waktu dari menit, jam, hari, bulan, hingga tahun merupakan bagian dari sunatullah yang tidak dapat dihindari. Karena itu, setiap pergantian waktu hendaknya dijadikan sebagai momentum untuk melakukan introspeksi dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang telah dilalui”, ujarnya

Dr. H. Wahyudin menjelaskan secara historis, hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah dilakukan karena kondisi di Makkah saat itu belum mendukung perkembangan dakwah Islam. Setelah berhijrah ke Madinah, Islam berkembang pesat dan melahirkan tatanan masyarakat yang lebih baik. Oleh karena itu, peristiwa hijrah menjadi inspirasi bagi umat.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa kata hijrah dalam Al-Qur'an disebutkan sebanyak 31 kali dengan berbagai bentuk dan penggunaannya. Salah satunya terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 100 yang menjelaskan bahwa siapa saja yang berhijrah di jalan Allah akan memperoleh banyak tempat yang luas serta rezeki yang lapang.

“Dari kajian terhadap Al-Qur'an dan hadis, terdapat dua makna hijrah yang dapat dipahami oleh umat Islam. Pertama adalah hijrah makani, yaitu perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bentuk hijrah ini dapat dilihat dari perjalanan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Dalam kehidupan saat ini, hijrah makani dapat berupa perpindahan seseorang ke daerah lain yang lebih mendukung perkembangan agama, pendidikan, maupun pencarian rezeki”, terangnya.

Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di tempat yang memiliki kesempatan pendidikan yang lebih baik, atau berpindah ke daerah lain untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Perpindahan seperti itu juga termasuk bagian dari makna hijrah.

Makna kedua adalah hijrah maknawi, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang buruk dan dilarang oleh Allah SWT. Makna ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah SWT.

“Hijrah maknawi menjadi esensi utama dari transformasi spiritual dan sosial. Melalui hijrah ini, seseorang berusaha berpindah dari kondisi yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik, dari tingkat ketaatan yang rendah menuju ketaatan yang lebih tinggi dan berkualitas kepada Allah SWT, meningkatkan kualitas diri melalui semangat hijrah i'tiqadiyah, yaitu memperbaiki dan meluruskan keyakinan. meninggalkan berbagai pemahaman dan keyakinan yang menyimpang dari ajaran Islam serta memperkuat akidah sesuai tuntunan Al-Qur'an dan sunnah”, ucapnya.

Sebagai penutup, momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah hendaknya tidak hanya menjadi peringatan pergantian tahun semata, tetapi juga menjadi titik awal untuk memperkuat semangat hijrah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terus memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, serta menebarkan kebaikan kepada sesama, diharapkan setiap Muslim dapat meraih kehidupan yang lebih bermakna, penuh keberkahan, dan mendapat ridha Allah SWT di dunia maupun di akhirat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....