Lawan Gawai, Sulsel Optimalkan Pustakawan Ramah Anak

  • 10 Jun 2026 13:34 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Tantangan terbesar dalam membangun budaya literasi pada anak-anak di era modern saat ini adalah dominasi gawai (gadget). Kemudahan akses informasi digital dinilai sering kali membuat anak-anak enggan menyentuh buku fisik, padahal informasi di internet belum tentu tersaring dengan baik.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Jufri dalam Program Kiprah Sulsel pada Selasa, 9 Juni 2026 menyebut Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan mengoptimalkan peran pustakawan khusus yang dibekali pendekatan humanis layaknya pendidik anak usia dini untuk ditempatkan pada Perpustakaan Ibu dan Anak. Dikatakan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyadari bahwa kenyamanan sebuah fasilitas tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan sarana fisik, melainkan juga keramahan dari para petugasnya.

Jufri mengatakan bahwa para pustakawan yang ditempatkan di Perpustakaan Ibu dan Anak secara khusus memiliki kompetensi komunikasi yang sesuai dengan dunia anak. Mereka dituntut memiliki tingkat kesabaran yang tinggi serta mampu mengubah gaya bicaranya agar tidak disamakan dengan pelayanan untuk pengunjung dewasa atau mahasiswa.

“Mereka bilang ada yang otodidak, ada yang sebelum dia bergabung ke perpustakaan, punya pengalaman pernah ngajar di PAUD. Pernah ngajar di TK. Jadi ya memang sudah terbiasa menghadapi anak-anak,” jelas Jufri.

Langkah strategis ini dinilai penting karena proses belajar anak usia dini mutlak dilakukan melalui metode bermain yang menyenangkan. Inovasi yang dirintis oleh Pemprov Sulsel ini diklaim sebagai salah satu pionir gerakan perpustakaan ramah anak yang terintegrasi di Indonesia sejak mulai beroperasi penuh pada tahun 2020.

Keberhasilan konsep ini bahkan telah memicu perhatian dari Perpustakaan Nasional yang ikut memberikan dukungan berupa hibah buku-buku tematik anak. Kini, beberapa kota besar lain di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung juga mulai mengadopsi langkah serupa dalam menata ruang baca mereka.

Meskipun demikian, penyebaran fasilitas perpustakaan yang representatif dan terpisah khusus untuk ibu dan anak di tingkat kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan diakui masih bervariasi. Pemerintah berharap ke depan seluruh pemerintah daerah mampu menyiapkan gedung sendiri dengan ruang gerak yang jauh lebih luas bagi anak-anak.

“Kalaupun misalnya mereka belum punya gedung tersendiri, tapi harapan kita kalau bisa memang dia punya gedung sendiri, yang spacenya itu lebih luas. Karena anak-anak itu kan butuh ruang gerak yang lebih luas,” tutup Jufri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....