Masyarakat Diminta Menjaga Sumber Daya Alam demi Masa Depan

  • 08 Jun 2026 12:32 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Di balik krisis lingkungan yang terus memburuk, seorang aktivis literasi hijau menyuarakan peringatan keras, masyarakat Indonesia terlanjur memandang alam sebagai warisan yang boleh dihabiskan, bukan titipan yang wajib dijaga untuk generasi mendatang. Peringatan itu disampaikan Zahir Juana Ridwan, Ketua Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Sanitasi Apel Hijau, dalam dialog Green Radio bertema Hijau Bumi Lingkungan Lestari di RRI Pro 1 Makassar, Minggu, 7 Juni 2026.

"Kalau kita menganggap alam semesta ini titipan generasi yang akan datang, maka kita akan menjaganya. Tapi kalau kita anggap warisan dari leluhur, maka kita akan menghabiskannya," ujar Zahir.

Ia menjelaskan bahwa bumi dirancang Allah secara presisi selama ratusan juta tahun agar layak dihuni manusia. Letaknya terhadap matahari tidak terlalu dekat seperti Merkurius yang membakar, tidak terlalu jauh seperti Pluto yang membekukan. Di dalamnya tersimpan sumber daya alam hasil proses panjang berupa nikel, emas, batu bara, timah, dan boksit yang kini dieksploitasi besar-besaran tanpa batas.

Zahir juga mengurai bagaimana sistem alam bekerja saling mengisi secara sempurna, manusia mengembuskan karbon dioksida, tumbuhan menyerapnya melalui klorofil dan menghasilkan oksigen. Bahkan secara medis, memandang warna hijau dedaunan terbukti memberi ketenangan bagi otak manusia karena Allah menciptakan keselarasan antara indera penglihatan manusia dengan lingkungan hijaunya.

Keselarasan itulah yang kini terancam. Zahir menyebut keserakahan manusia dalam sejarah selalu berujung pada penguasaan dan perusakan sumber daya alam. Hampir semua peperangan besar dalam sejarah, termasuk penjajahan atas Indonesia, berakar pada nafsu menguasai kekayaan alam bangsa lain. "Sifat dasar manusia itu serakah, kecuali orang-orang yang dibimbing hatinya oleh Tuhan untuk menjadi pribadi yang ikhlas. Kalau kita tidak terbimbing, kita akan serakah," kata Zahir.

Gaya hidup materialisme, lanjutnya, mendorong semua sumber daya alam dicaplok habis. Bila ada aturan yang menghalangi, aturan itu diupayakan untuk diubah. Akibatnya, kemiskinan semakin nyata dan kerusakan lingkungan semakin parah di sekitar masyarakat yang justru tinggal di wilayah kaya sumber daya.

Zahir mengajak siapa pun untuk mulai dari langkah kecil, tidak perlu menunggu bisa melakukan hal besar. "Yang kecil-kecil apa yang bisa kita lakukan? Paling tidak dari diri kita tidak ada sampah yang terbuang di tempat yang macam-macam. Mulai dari sekarang dan lakukan dengan penuh cinta terhadap lingkunganmu," tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....