Buang Sampah Sembarangan Jadi Cermin Buram Kesadaran Lingkungan Masyarakat
- 08 Jun 2026 12:04 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Perilaku membuang sampah sembarangan masih menjadi cermin buram kesadaran lingkungan masyarakat Indonesia. Bahkan di forum-forum seminar yang dihadiri kalangan terdidik sekalipun, sampah kerap ditinggalkan begitu saja meski tempat sampah tersedia.
Fakta pahit itu diungkapkan Zahir Juana Ridwan, Ketua Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Sanitasi Apel Hijau, dalam dialog Green Radio bertema Hijau Bumi Lingkungan Lestari di RRI Pro 1 Makassar, Minggu, 7 Juni 2026. "Kita ikut seminar, memang ada tempat sampahnya, tapi hampir semua meninggalkan sampahnya di tempat. Satu dua saja yang buang ke situ. Selebihnya tinggalkan. Sudah berantakan itu sudah lumrah terjadi," ujar Zahir.
Ia membandingkan perilaku itu dengan kebiasaan warga Jepang yang tidak pernah membuang sampah di sembarang tempat. Seorang koleganya yang baru kembali dari Jepang bercerita hampir tidak menemukan tempat sampah di ruang publik, bukan karena tidak ada fasilitas, melainkan karena warga Jepang membawa dan menyimpan sampahnya sendiri hingga menemukan tempat pembuangan yang tepat.
Zahir menegaskan bahwa kesenjangan ini bukan soal fasilitas semata, melainkan soal spektrum berpikir. Semakin luas wawasan seseorang terhadap lingkungan, sanitasi, dan sumber daya air, semakin besar pula kesadaran yang tumbuh dan mendorongnya untuk peduli.
Apel Hijau, singkatan dari Asosiasi Penggerak Perpustakaan dan Literasi Hijau, dibentuk atas kesadaran bersama para pegiat literasi lintas profesi, mulai dari pustakawan, sastrawan, budayawan, hingga jurnalis, untuk membaca ulang fenomena lingkungan dan mendistribusikan pengetahuan itu kepada masyarakat luas. "Kesadaran-kesadaran itu dibangun dari pendidikan, dari wawasan. Dan upaya RRI ini menjadi satu bagian amal saleh untuk bersama-sama, gayung bersambut, mencoba membangun lingkungan hijau yang kita lestarikan," kata Zahir.
Ia menilai akar masalah rendahnya literasi hijau di Indonesia adalah absennya pembiasaan sejak dini dalam sistem pendidikan. Gerakan-gerakan peduli lingkungan baru terasa masif dalam lima tahun terakhir, padahal kerangka global seperti Millennium Development Goals dan penggantinya, Sustainable Development Goals dengan 17 poin, sudah lama menempatkan lingkungan sebagai prioritas utama pembangunan.
"Semakin luas pemikiran kita terhadap lingkungan, terhadap sanitasi, air dan sebagainya, maka semakin kita akan sadar. Dan semakin kita sadar, perlahan tapi pasti kita akan menjadi orang-orang yang mempedulikan lingkungan kita," tegasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....