Tekanan Kurs Dolar Kian Berat, BI Dinilai Perlu Pertimbangkan Kenaikan Suku Bunga
- 08 Jun 2026 11:07 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID Makasar - Penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang mencapai kisaran Rp18.300 per dolar AS dinilai memberikan tekanan besar terhadap berbagai sektor bisnis di Indonesia, terutama industri manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor. Pengamat Ekonomi Universitas Patria Artha Suhendra S,E.,M,M., CFM di Makassar Senin 08 Juni 2026 mengatakan kondisi saat ini memiliki kemiripan dengan krisis ekonomi pada periode 1997–1998, meskipun dengan karakteristik yang berbeda.
"Kenaikan dolar periode ini hampir sama dengan periode 1997–1998 dan berdampak pada semua sektor industri, baik UMKM, industri menengah, maupun industri besar, terutama sektor manufaktur," ujarnya.
Menurutnya, penguatan dolar menyebabkan biaya produksi meningkat karena banyak komponen dan bahan baku masih didatangkan dari luar negeri. Akibatnya, pelaku usaha menghadapi dilema antara menaikkan harga jual atau menanggung penurunan keuntungan.
"Kenaikan biaya produksi minimal sekitar 10 persen. Namun ketika harga dinaikkan, muncul pertanyaan apakah pasar masih mampu menyerap produk tersebut atau tidak," katanya.
Hendra menjelaskan, dalam jangka pendek sebagian besar pelaku UMKM masih bertahan dengan cara menekan margin keuntungan. Jika sebelumnya margin mencapai 30 persen, kini banyak yang menurunkannya hingga sekitar 10 persen.
Meski demikian, strategi tersebut dinilai tidak dapat bertahan lama apabila pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan. "Kalau kondisi ini berlangsung lama, baik UMKM maupun industri besar yang bergantung pada impor bahan baku seperti bahan kimia, besi, dan elektronik akan mengalami tekanan yang serius," jelasnya.
Untuk mengurangi dampak pelemahan rupiah, Hendra meminta pemerintah lebih cermat dalam mengalokasikan anggaran negara. Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah memperkuat sektor padat karya guna menjaga daya beli masyarakat.
"Pemerintah harus menggeser sebagian anggaran ke sektor padat karya agar ada pergerakan ekonomi dari bawah. Dengan begitu daya beli masyarakat tetap terjaga dan produk-produk industri masih bisa terserap pasar," ujarnya.
Selain itu, ia menilai proyek-proyek infrastruktur yang memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja perlu diprioritaskan. Sementara beberapa program strategis lainnya dapat ditunda atau disesuaikan sementara waktu.
Terkait upaya penguatan rupiah, Hendra mengakui bahwa pemerintah melalui Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan memasok dolar dalam jumlah besar. Namun, langkah tersebut dinilai belum memberikan dampak signifikan.
Ia menilai salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, arus keluar modal asing turut memengaruhi tekanan terhadap rupiah.
"Yang perlu diperhatikan adalah apakah memang terjadi penarikan dana investor secara masif dari Indonesia atau tidak," katanya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan mengadopsi kebijakan yang pernah dilakukan Presiden BJ Habibie ketika menghadapi gejolak nilai tukar pada akhir 1990-an, Hendra menilai tidak semua langkah dapat diterapkan secara penuh pada kondisi saat ini.
Namun demikian, ia menyebut salah satu kebijakan yang dapat dipertimbangkan adalah kenaikan suku bunga acuan untuk meredam spekulasi terhadap dolar. "Pada masa Presiden Habibie ada keberanian untuk menaikkan tingkat suku bunga. Kebijakan itu bisa dipertimbangkan kembali agar masyarakat lebih memilih menabung daripada berspekulasi terhadap dolar," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....