Densus 88 dan DPPPA Makassar Tangani 5 Anak yang Terpapar Paham Radikal
- 07 Jun 2026 09:26 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar- Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar mengungkap adanya lima anak yang terpapar paham radikal melalui aktivitas permainan daring atau game online. Kasus tersebut ditemukan setelah adanya koordinasi antara DPPPA Makassar dan Densus 88 dalam upaya pencegahan penyebaran paham radikal di kalangan anak-anak.
Kepala Dinas PPPA Makassar, Ita Isdiana Anwar, mengatakan pihaknya selama ini menjalin kerja sama dengan Densus 88 untuk melakukan penjangkauan terhadap anak-anak yang terindikasi terpapar paham radikal maupun terorisme.
"Kami bekerja sama dengan Densus 88. Kalau ada kasus terkait anak di Makassar, maka kami dihubungi oleh Densus, kemudian kami sama-sama turun melakukan penjangkauan. Sudah ada lima anak yang melalui game online secara tidak sadar masuk dalam pemahaman radikal atau teroris," ujar Ita, Minggu, 7 Juni 2026.
Menurut Ita, setelah menerima informasi tersebut, tim langsung melakukan pendampingan kepada anak dan keluarganya. Pendekatan dilakukan secara persuasif melalui konseling dan edukasi agar anak-anak memahami risiko yang mereka hadapi.
Ia menjelaskan, sebagian besar anak yang terpapar tidak menyadari bahwa mereka telah masuk ke dalam jaringan atau kelompok yang mengarah pada paham radikal. Awalnya mereka hanya mengira bergabung dalam grup yang berkaitan dengan game online.
Ita menyebut pihaknya kemudian melakukan penjangkauan kepada orang tua dan anak untuk memberikan pemahaman mengenai kondisi yang terjadi. Pendampingan juga dilakukan secara berkelanjutan agar proses pemulihan berjalan optimal.
"Anak-anak ini sebenarnya tidak tahu dan tidak sadar bahwa mereka sudah masuk dalam grup-grup WhatsApp tersebut. Mereka mengira hanya grup game online. Orang tua mereka sempat stres setelah mengetahui hal ini, tetapi kami dampingi dan kami sampaikan bahwa masalah ini bisa diselesaikan selama orang tua mau bekerja sama dengan kami," katanya.
Ita menambahkan, anak-anak yang terpapar umumnya memiliki kemampuan teknologi informasi yang baik. Namun, karena terlalu aktif dan mahir dalam dunia digital, mereka tanpa sadar terpapar konten maupun komunikasi yang mengarah pada paham radikal.
Saat ini, lima anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP tersebut telah menunjukkan perkembangan positif setelah menjalani pendampingan dan konseling. Ita berharap kasus serupa tidak kembali terjadi dan mengimbau orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak-anak mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....