Pembelajaran Budaya Lokal Makassar dalam Membentuk Karakter Peserta Didik

  • 07 Jun 2026 06:12 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik. Di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi saat ini, generasi muda menghadapi tantangan berupa semakin jauhnya mereka dari akar budaya yang menjadi identitas masyarakat. Hal tersebut disampaikan Syarifuddin Munier, S.Pd., M.Si. - Guru SMAN 20 Gowa dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar pada hari Jumat, 5 Juni 2026.

Menurut Syarifuddin pengintegrasian budaya lokal ke dalam proses pembelajaran di sekolah dinilai menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang kuat pada siswa/siswi dan sangat relevan dalam menjawab berbagai persoalan karakter yang dihadapi generasi muda saat ini.

“Budaya lokal Makassar memiliki nilai-nilai luhur tidak seharusnya hanya dipandang sebagai pengetahuan tambahan, melainkan menjadi ruh atau jiwa dalam setiap proses pembelajaran di sekolah agar membentuk karakter siswa/siswi di sekolah”, Ujar Syarifuddin.

Syarifuddin menambahkan, Ia mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan untuk mengangkat dan melestarikan budaya lokal. Ia menilai perhatian terhadap budaya daerah merupakan bentuk penghargaan yang luar biasa terhadap warisan leluhur yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Masyarakat Makassar memiliki sejumlah nilai budaya yang telah mengakar kuat, seperti siri’ na pacce, sipakatau, sipakalabbiri’, dan sipakainga’. Nilai-nilai tersebut mengajarkan tentang penghormatan terhadap sesama manusia, saling memuliakan, saling mengingatkan, serta memiliki empati dan solidaritas sosial yang tinggi”, ucap Syarifuddin.

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa terdapat satu nilai mendasar yang sering kali luput dari perhatian, yaitu pangngali atau rasa malu. Nilai ini dianggap sebagai akar dari berbagai karakter positif dalam budaya Makassar. Menurutnya, seseorang (siswa/siswi) yang memiliki rasa malu akan selalu mempertimbangkan, apakah suatu tindakan pantas atau tidak pantas dilakukan. Dengan demikian, rasa malu berfungsi sebagai pengendali moral yang membimbing seseorang (siswa/siswi) dalam bersikap dan bertindak.

“Ketika rasa malu telah tertanam kuat dalam diri seseorang, maka nilai-nilai seperti sipakatau, sipakalabbiri’, dan sipakainga’ akan tumbuh dengan sendirinya. Rasa malu menjadi rem yang membuat seseorang (siswa/siswi) berpikir sebelum bertindak. Dengan demikian, setiap ucapan dan perbuatan akan lebih terjaga karena didasari kesadaran untuk menghormati orang lain”, jelasnya.

Selain itu, Syarifuddin juga menyoroti pentingnya bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya. Menurutnya, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan budaya dan karakter suatu masyarakat. Melalui bahasa, seseorang (siswa/siswi) dapat mengenali nilai-nilai yang dianut oleh suatu komunitas.

“Bahasa menunjukkan budaya, bahkan sering kita mendengar ungkapan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Ketika seseorang (siswa/siswi) mampu menggunakan bahasa dengan baik dan santun, maka hal itu juga mencerminkan kualitas karakter dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”, terang Syarifuddin.

Ia berharap budaya lokal Makassar dapat terus dihidupkan dan diwariskan kepada generasi muda melalui dunia pendidikan. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter yang berlandaskan nilai-nilai budaya luhur masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....