Kurang Komunikasi di Rumah, Pemicu Anak Rentan Mencari Kasih Sayang di Luar

  • 06 Jun 2026 15:50 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar, mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membangun kedekatan emosional dengan anak di tengah maraknya penggunaan telepon genggam dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Ita, orang tua perlu lebih banyak meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak agar perkembangan psikologis dan sosial mereka dapat terpantau dengan baik.

Ia menilai kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua dapat memengaruhi tumbuh kembang anak dan dinilai menjadi salah satu penyumbang kasus LGBT di Makassar. "Penyebab anak-anak kita jadi korban LGBT salah satunya karena kurang kasih sayang dari orang tuanya. Dia mencari kasih sayang dari orang lain. Jadi kalau ada yang kasih perhatian lebih maka akan muncul rasa suka, rasa sayang dan rasa cinta," kata Ita, Sabtu, 6 Juni 2026.

Ita mengatakan, komunikasi sederhana dalam keluarga dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat hubungan antara orang tua dan anak. Salah satunya dilakukan saat seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan. “Ini yang harus sama-sama kita bicarakan, diskusikan. Tapi satu yang sama-sama saya minta kepada bapak dan ibu sebagai orang tua, pada saat makan di meja makan tolong jangan main HP. Di meja makan itu isi dengan komunikasi, minimal tanya bagaimana sekolahnya, kapan ujiannya,” ujarnya.

Ia menilai kebiasaan orang tua yang terlalu fokus pada gawai dapat mengurangi intensitas komunikasi dengan anak. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian bersama. Selain itu, Ita mengajak para orang tua untuk melakukan introspeksi terhadap kebiasaan penggunaan telepon genggam dalam keluarga.

Menurutnya, tidak sedikit orang tua yang lebih dulu mencari ponsel setelah bangun tidur dibandingkan memperhatikan kebutuhan keluarga. Ia mengingatkan anak membutuhkan kehadiran dan perhatian langsung dari orang tua, bukan hanya pemenuhan kebutuhan materi semata.

Karena itu, Ita berharap keluarga dapat membangun kembali budaya komunikasi yang hangat dan terbuka agar anak merasa diperhatikan dan dihargai di lingkungan rumah. “Kalau semua sudah sibuk dengan HP, hati-hati. Kita juga harus koreksi diri. Kita bangun tidur langsung cari HP, kita lupa siapkan makanan untuk anak dan suami. Makanya mungkin kita saling mengingatkan, jangan sampai parah ini masalah. Bagaimana anak-anak kita,” pungkas Ita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....