Formula Pakan Alternatif Dongkrak Untung Peternak Mandiri
- 05 Jun 2026 20:52 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Tantangan mahalnya harga pakan komersial mendorong Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengedukasi peternak mengenai pemanfaatan bahan baku alternatif. Mengandalkan pakan pabrikan secara penuh di tengah ketidakstabilan ekonomi dinilai tidak lagi ideal bagi peternak mandiri yang bermodal terbatas.
Pengawas Mutu Pakat Ahli Madya Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan, Nunung Akhirany dalam Program Kiprah Sulsel pada Jumat, 5 Juni 2026 mengatakan inovasi pada tata kelola pakan dan manajemen kandang menjadi kunci utama guna mengamankan margin keuntungan yang kian menipis. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengeklaim peternak mandiri sebenarnya mampu memangkas pengeluaran pakan dalam jumlah yang cukup signifikan jika mereka mau merubah kebiasaan lama.
“Jadi untuk peternak mandiri itu sebenarnya bisa menekan daya pakan itu sampai 20% apabila peternak itu bisa mengefisiensikan tata kelola kandang dan pemanfaatan bahan baku lokalnya Karena begini, biaya pakan itu memang tinggi itu sampai 75% dari total produksi, itu untuk modal operasional. Jadi perubahan-perubahan kecil pada manajemen pakan itu akan berdampak besar,” jelas Nunung.
Lebih lanjut, Nunung menjelaskan salah satu formula racikan lokal yang sukses diterapkan oleh kelompok peternakan dampingannya adalah metode formula 5-3-2. Formula tersebut memanfaatkan 50% jagung lokal, 30% konsentrat inti pabrikan, dan 20% dedak padi kualitas super.
Selain itu, pemanfaatan limbah sampingan seperti ampas tahu, ampas kelapa, tanaman air (azolla dan eceng gondok), hingga budidaya maggot lalat hitam (Black Soldier Fly) sangat potensial digunakan sebagai substitusi sumber protein.
Meski demikian, Nunung memberikan catatan kritis bahwa bahan baku lokal memiliki kelemahan berupa kadar air tidak stabil, ancaman jamur, bakteri, serta adanya zat anti-nutrisi. Oleh karena itu, sentuhan teknologi seperti fermentasi atau silase (pengawetan pakan hijau) wajib dilakukan sebelum pakan alternatif diberikan ke ternak.
Guna menyukseskan hal tersebut, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) peternak melalui pendampingan intensif mutlak diperlukan. “Bahan pakan alternatif tidak boleh serta-merta langsung diberikan kepada ternak, melainkan harus melalui proses fermentasi terlebih dahulu untuk menurunkan kadar serat kasar dan menghilangkan zat anti-nutrisi agar ternak tidak sakit. Di beberapa yang pendampingan kami itu, ada banyak peternak mandiri sukses menerapkan strategi semi self mixing. Ini untuk mendapatkan keuntungan maksimal,” tutup Nunung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....