Pesisir Sulsel Kritis, Konservasi Mangrove Buka Lapangan Kerja Warga Lokal
- 03 Jun 2026 02:05 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar — Kawasan pesisir Sulawesi Selatan dinilai berada dalam kondisi kritis akibat berkurangnya tutupan mangrove secara drastis. Di tengah ancaman abrasi dan deforestasi, Alam Lestari Indonesia membangun model konservasi yang sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal. Kondisi ini dipaparkan Riswal, Founder Alam Lestari Indonesia, kepada RRI Makassar.
"Hutan mangrove di pesisir Sulawesi Selatan sangat kritis. Beberapa daerah sudah mengalami abrasi karena tidak adanya mangrove di pesisir," ujar Riswal.Selasa, 2 Juni 2026.
Ia menjelaskan, kerusakan berakar dari praktik lama pengubahan hutan mangrove menjadi tambak. Selain isu pesisir, Riswal menyebut tiga persoalan lingkungan yang paling mendesak di Sulsel, yakni kerusakan mangrove, ekspansi pertambangan, dan pengelolaan sampah yang belum memadai.
"Bagaimana generasi ke depan bisa bertahan jika lingkungan hari ini dirusak lebih parah oleh aktivitas pertambangan? Ini butuh duduk bersama dan diskusi bersama," tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Alam Lestari Indonesia tidak hanya menanam, tetapi juga melibatkan kelompok tani hutan di sekitar lokasi penanaman di Kecamatan Tonra, Kabupaten Bone, sebagai pelaksana di lapangan.
"Kami libatkan masyarakat lokal yang tergabung dalam kelompok tani hutan dan mengupah mereka sesuai prestasi kerja. Jadi ada efek ekonomi kepada mereka," ungkap Riswal.
Program ini sekaligus terbuka bagi perusahaan yang ingin menyalurkan dana CSR di sektor lingkungan. Riswal memastikan seluruh laporan pertanggungjawaban tersedia secara transparan dan dapat diakses mitra secara berkala melalui sistem dokumentasi yang telah disiapkan lembaga.
"Yang bingung mau salurkan CSR-nya untuk lingkungan, adopsi mangrove bisa jadi jawabannya. Laporan kami jelas dan bisa diakses berkala," kata Riswal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....