Pancasila: Peredam Polarisasi dan Pemersatu Bangsa
- 01 Jun 2026 15:52 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,MAKASSAR — Momen peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni menjadi refleksi krusial bagi perjalanan bangsa Indonesia di tengah era keterbukaan informasi. Menjawab tantangan zaman tersebut, PRO1 RRI Makassar dalam Dialog Interaktif edisi Senin, 1 Juni 2026 dengan mengangkat topik utama "Pancasila: Peredam Polarisasi dan Pemersatu Bangsa".
Dipandu oleh penyiar Arfan Yusri, dialog yang disiarkan secara langsung ini membedah mendalam sejauh mana nilai-nilai dasar negara mampu menjadi benteng pertahanan masyarakat dari ancaman perpecahan digital dan politik. Guna mengupas tuntas dinamika tersebut, RRI Makassar menghadirkan narasumber Prof. Dr. Phil. Sukri, M.Si., yang merupakan Pengamat Sosial Politik sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin.
Terhubung melalui sambungan telepon, Prof. Sukri mengawali pemaparannya dengan memberikan apresiasi atas konsistensi perayaan Hari Lahir Pancasila. Dalam dialog tersebut, Prof. Sukri menyoroti fenomena polarisasi yang kian tajam ini, terutama yang dipicu oleh narasi-narasi di media sosial.
“Perbedaan pandangan politik, suku, dan agama sering kali dieksploitasi hingga menciptakan sekat-sekat imajiner di antara anak bangsa. Di sinilah Pancasila hadir sebagai titik temu (common platform) yang melampaui segala perbedaan primordial tersebut. Sila-sila di dalamnya dirancang sebagai jangkar moral agar masyarakat tidak mudah terombang-ambing oleh provokasi yang memecah belah” jelasnya.
"Pancasila itu adalah kalimatun sawa atau titik temu bagi bangsa yang sangat majemuk ini. Polarisasi sering kali muncul ketika kita lebih egois mengedepankan identitas kelompok kecil kita di atas identitas nasional. Jika setiap warga negara menginternalisasi nilai keadilan dan kemanusiaan dalam Pancasila, maka ruang-ruang digital kita tidak akan dipenuhi oleh ujaran kebencian, melainkan oleh dialog yang sehat," tambah Prof. Sukri.
Lebih lanjut, Dekan FISIP UNHAS ini juga menekankan pentingnya peran generasi muda, khususnya Generasi Z dan Milenial, dalam membumikan Pancasila dengan cara-cara baru yang lebih adaptif. “ Mengajarkan Pancasila di era sekarang tidak bisa lagi menggunakan metode indoktrinasi satu arah yang kaku. Nilai-nilai gotong royong dan toleransi harus dikemas melalui produk budaya populer, konten kreatif, serta aksi nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak muda agar mereka merasa memiliki dasar negara tersebut,” kata Prof.Sukri.
Menjawab pertanyaan publik mengenai tantangan terbesar implementasi Pancasila di tingkat akar rumput saat ini. Merespons hal itu, Prof. Sukri menegaskan bahwa ketimpangan sosial dan ketidakadilan hukum sering kali menjadi celah yang menggoyahkan kepercayaan publik terhadap nilai Pancasila. Oleh karena itu, keteladanan dari para elit politik dan pembuat kebijakan menjadi syarat mutlak agar masyarakat melihat Pancasila sebagai realitas yang hidup, bukan sekadar teks hafalan di buku pelajaran.
Prof. Sukri mengajak seluruh elemen masyarakat di Sulawesi Selatan untuk menjadikan Hari Lahir Pancasila 2026 ini sebagai momentum rekonsiliasi kebangsaan. “Perbedaan adalah keniscayaan dan kekayaan yang dimiliki Indonesia, namun persatuan harus tetap menjadi tujuan utama.Bahwa Pancasila akan tetap ampuh menjadi peredam polarisasi selama seluruh komponen bangsa berkomitmen untuk merawat dan mengamalkannya secara konsisten,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....