BMKG Tegaskan Suhu Panas Bukan Penanda El Nino atau Musim Kemarau

  • 01 Jun 2026 15:51 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Meningkatnya suhu udara hingga mencapai 35 °C di beberapa wilayah Sulawesi Selatan tidak serta merta menandakan terjadinya El Nino maupun musim kemarau. Prakirawan BMKG Sulawesi Selatan, Nurrohmi Utami menegaskan bahwa kedua fenomena tersebut memiliki indikator yang berbeda dari sekadar suhu udara di daratan.

"Penentuan awal musim kemarau dilakukan berdasarkan curah hujan. Suatu zona musim dinyatakan memasuki musim kemarau apabila curah hujannya kurang dari 50 milimeter per dasarian atau periode 10 hari dan menunjukkan pola yang konsisten menuju kondisi lebih kering,"jelasnya, Senin, 1 Juni 2026.

Karena itu, lanjut Nurrohmi, suhu udara yang berkisar antara 26 hingga 35 derajat Celcius hanya dapat menjadi indikasi cuaca cerah, namun belum cukup untuk menyimpulkan bahwa suatu wilayah telah memasuki musim kemarau tanpa melihat data curah hujan.

Ia juga menjelaskan El Nino merupakan fenomena laut-atmosfer global yang diukur dari kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, bukan berdasarkan suhu udara di daratan. "Dampak El Nino di Indonesia biasanya ditandai oleh berkurangnya curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang dan kering, serta meningkatnya jumlah hari tanpa hujan,"ungkap Nurrohmi.

Adapun berdasarkan prediksi musim BMKG, sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan bagian selatan seperti Takalar, Jeneponto, Bantaeng, sebagian Gowa, dan sebagian Kepulauan Selayar telah memasuki musim kemarau. Sementara itu, Makassar, Maros, Pangkep, sebagian Bone, Barru, dan Sinjai masih berada pada masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

Sedangkan wilayah Sulawesi Selatan bagian utara seperti Tana Toraja, Toraja Utara, sebagian Luwu, Luwu Utara, dan kawasan pegunungan Enrekang masih berada pada periode musim hujan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....