SIT Ikhtiar Gelar Imtihan dan Khatmul Qur’an, Dorong Sertifikasi BTQ
- 25 Mei 2026 09:03 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Sertifikasi pendidikan Al-Qur’an di Sekolah Islam Terpadu (SIT) kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan menjadi kebutuhan sistemik yang mendesak. Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Makassar, Hasan Pinang pada kegiatan Imtihan dan Khatmul Qur’an SIT Ikhtiar yang dilaksanakan di Hotel Unhas, Minggu, 24 Mei 2026.
Dijelaskan urgensi sertifikasi baca tulis Al-Qur’an dilatarbelakangi oleh tiga fakta utama. Pertama, masih banyak guru agama yang berada pada level dasar dalam kemampuan membaca Al-Qur’an. Kedua, tuntutan profesionalisme guru yang mengharuskan adanya standar kompetensi yang jelas dan terukur. Ketiga, karakter khas Sekolah Islam Terpadu yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh dan fondasi utama seluruh aktivitas pendidikan.
"Ketiga aspek tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi santri dan siswa yang unggul dalam kemampuan baca tulis Al-Qur’an,"kata Hasan Pinang.
Sementara itu, Ketua Yayasan SIT Ikhtiar, Syarifuddin Wahid menegaskan bahwa eksistensi Sekolah Islam Terpadu (SIT) Ikhtiar Kota Makassar saat ini menjadi salah satu sekolah Islam yang alumninya akan memperoleh dua ijazah, yaitu ijazah berbasis kurikulum nasional serta ijazah kemampuan baca Al-Qur’an dari Kementerian Agama. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu keunggulan SIT Ikhtiar selama ini.
"Pada kegiatan Imtihan dan Khatmul Qur’an tahun ini, SIT Ikhtiar berhasil mewisuda sebanyak 178 santri, yang terdiri atas 114 siswa tingkat SD dan 64 siswa tingkat SMP,"ucap Syarifuddin Wahid.
Suasana acara berlangsung penuh haru dan kebanggaan. Penampilan para santri yang mampu menjawab berbagai materi ujian dengan lancar mendapat decak kagum dari seluruh hadirin, khususnya para orang tua. Bahkan, beberapa orang tua secara spontan memberikan hadiah istimewa sebagai bentuk apresiasi dan motivasi kepada anak-anak mereka.
Dalam kesempatan itu juga disampaikan bahwa implementasi sertifikasi baca tulis Al-Qur’an harus dilakukan secara bijak dan berbasis praktik di lapangan. Sertifikasi tidak boleh terlalu birokratis maupun menjadi formalitas administratif semata, tetapi harus benar-benar menjadi alat ukur kompetensi. Selain itu, proses pembelajaran harus lebih diutamakan daripada sekadar kepemilikan sertifikat.
Sertifikasi juga diharapkan terintegrasi dengan kurikulum berbasis nilai dan ruhiyah Islam, bukan hanya sebatas pelajaran teknis membaca Al-Qur’an. Kegiatan dihadiri oleh Kepala Sekolah SD, Ansar, Kepala SMP, Masita Dasa serta Koordinator Guru Pembina Tahfizh, Muh. Ikhsan turut mendampingi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....