Empat Timbangan Kebenaran Hindu Jadi Pedoman Hadapi Informasi Digital
- 22 Mei 2026 20:48 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Di tengah derasnya arus informasi digital pada tahun 2026, masyarakat dinilai perlu memiliki kemampuan menyaring informasi secara bijak agar tidak mudah terpengaruh hoaks maupun provokasi. Dalam ajaran Hindu, terdapat konsep filsafat kuno bernama Catur Pramana yang dinilai relevan sebagai pedoman membangun kejernihan berpikir di era modern.
Hal tersebut disampaikan I Ketut Artana Muliadi, S.Ag dalam program “Hindu Dharma” yang disiarkan Rabu (20/5/2026) di Pro 1 RRI Makassar. Ia menjelaskan bahwa Catur Pramana merupakan empat alat ukur kebenaran yang diwariskan para maharsi dan pemikir Hindu untuk membantu manusia membedakan antara fakta dan kebohongan.
“Di zaman sekarang yang paling mahal bukan hanya harta, tetapi kejernihan pikiran. Karena itu, ajaran Catur Pramana menjadi sangat penting agar manusia tidak mudah terseret informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep pertama disebut Pratyaksa, yakni kebenaran yang diperoleh melalui pengamatan langsung dengan pancaindra. Menurutnya, masyarakat saat ini sering kali terlalu cepat mempercayai kabar yang beredar di media sosial tanpa melihat langsung fakta sebenarnya.

“Kalau belum melihat sendiri atau mendengar langsung dari sumbernya, maka tahan lisan dan tahan jari kita. Jangan mudah ikut menyebarkan informasi yang belum jelas,” katanya.
Selain itu, terdapat konsep Anumana, yaitu menarik kesimpulan melalui tanda atau logika sebab-akibat. Ia mencontohkan, seperti melihat asap yang menandakan adanya api atau awan gelap yang menandakan hujan akan turun.
“Melalui akal budi dan nurani, kita diajak berpikir sebelum percaya pada sebuah berita. Jika informasi hanya memicu kebencian dan perpecahan, maka kita harus mempertanyakan kebenarannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, ajaran Hindu juga mengenal Sabda Pramana, yakni kebenaran yang bersumber dari orang-orang terpercaya, kitab suci, maupun para guru yang memiliki pengetahuan dan perilaku yang baik. Menurutnya, di era digital masyarakat harus selektif memilih sumber informasi yang dapat dipercaya.
“Dengarkanlah orang-orang yang ucapannya menyejukkan, ilmunya jelas, dan perilakunya selaras dengan apa yang disampaikan. Jangan mudah terpengaruh oleh suara-suara yang hanya mencari sensasi,” ujarnya.
Melalui pemahaman Catur Pramana, umat Hindu diharapkan mampu membangun sikap bijak, kritis, serta menjaga kerukunan sosial di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....