Munafri: Literasi Jadi Fondasi Masa Depan Makassar
- 18 Mei 2026 20:48 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya literasi dan pengembangan perpustakaan sebagai gerbang ilmu pengetahuan masa depan di Kota Makassar. Komitmen tersebut disampaikan saat dirinya menjadi keynote speaker pada talkshow literasi dalam rangka Hari Buku Nasional 2026 yang digelar Universitas Hasanuddin melalui Perpustakaan Universitas Hasanuddin, Senin, 18 Mei 2026.
Kegiatan itu mengangkat tema “Penguatan Budaya Literasi Akademik di Era Transformasi Digital”. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bunda Literasi Kota Makassar sekaligus Bunda PAUD, Melinda Aksa.
Dalam paparannya, Munafri menekankan pentingnya membangun ekosistem literasi yang kuat dimulai dari lingkungan internal pemerintah. Ia mendorong aparatur sipil negara (ASN), khususnya pejabat eselon III seperti kepala bidang, kepala subbagian, hingga kepala dinas untuk menghasilkan karya tulis berupa buku. “ASN harus punya karya. Minimal satu buku yang bisa menjadi pegangan, baik sebagai referensi maupun bentuk penguatan literasi personal dan institusional,” ujarnya.
Menurut Munafri, buku yang ditulis tidak harus bersifat akademik berat. Buku dapat disusun dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami pelajar SD dan SMP, dengan konten yang relevan dengan kehidupan sehari-hari seperti pengelolaan sampah, kepedulian lingkungan dan hewan, hingga pola hidup di ruang terbatas. Ia menilai langkah tersebut sebagai strategi konkret menghadirkan literasi yang aplikatif dan dekat dengan masyarakat. Jika setiap perangkat daerah mampu menghasilkan satu buku setiap tahun, maka Pemerintah Kota Makassar dapat memproduksi sekitar 150 buku baru. “Buku-buku ini nantinya akan didistribusikan ke sekolah-sekolah, baik negeri maupun swasta,” tuturnya.
Munafri menyebut saat ini terdapat puluhan SMP dan ratusan SD di Makassar yang membutuhkan bahan bacaan kontekstual dan mudah dipahami siswa.
Politisi Partai Golongan Karya itu juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun budaya literasi.
Menurutnya, penguatan literasi tidak dapat berjalan maksimal tanpa sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, penerbit, dan seluruh pemangku kepentingan. “Artinya, kolaborasi menjadi kunci dalam membangun kota, termasuk dalam penguatan literasi,” ungkapnya.
Munafri turut menyoroti peran perpustakaan sebagai ruang asimilasi berbagai disiplin ilmu dan komunitas. Ia menegaskan perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang interaksi intelektual yang mempertemukan beragam gagasan.
“Perpustakaan adalah ruang pertemuan berbagai segmen,” jelasnya.
Dalam konteks transformasi digital, Munafri menilai digitalisasi bukan pengganti buku fisik, melainkan jembatan untuk memperluas akses literasi. Karena itu, diperlukan keseimbangan antara buku cetak dan platform digital dalam proses pembelajaran. “Digitalisasi tidak menghilangkan buku teks, tetapi menjadi penghubung menuju akses yang lebih luas. Kita harus membangun kombinasi yang baik antara keduanya,” katanya.
Munafri juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Makassar terus berupaya menghadirkan perpustakaan daerah yang modern. Meski menghadapi sejumlah tantangan, pihaknya optimistis perpustakaan kota dapat menjadi salah satu yang terbaik di Sulawesi Selatan.
Melalui Dinas Perpustakaan, berbagai program literasi juga terus digalakkan hingga menjangkau masyarakat di tingkat kelurahan.
Di akhir penyampaiannya, Munafri mengajak seluruh pihak menjaga dan meningkatkan indeks literasi Kota Makassar yang saat ini tergolong tinggi di Sulawesi Selatan. Ia berharap kegiatan literasi tidak berhenti pada seremoni semata, tetapi memberi dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kami berharap sinergi antara pemerintah, kampus, dan seluruh stakeholder terus terjalin kuat,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....