Pelantikan DPP ICATT, Fokus Lawan Radikalisme di Ruang Digital

  • 14 Mei 2026 19:57 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Pelantikan Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) periode 2026–2029 menjadi momentum penting yang tidak sekadar seremonial. Bertempat di Hotel Vasaka, Jalan AP Pettarani, Makassar, Kamis, 14 Mei 2026, kepengurusan baru ICATT resmi dikukuhkan dengan membawa arah gerakan yang lebih progresif dan relevan dengan tantangan zaman.

Malingkai Ilyas, yang juga sebagai Ketua Tim Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kementerian Agama Sulawesi Selatan, kini dipercaya menakhodai ICATT sebagai Ketua Umum. Ia didampingi oleh Ihsan Zainuddin sebagai Ketua I dan Ardiansyah Arsyad sebagai Ketua II. Sementara itu, posisi Sekretaris Jenderal diisi Muh Ilham Iskandar bersama Muhammad Husni Ali Hasan dan Musawwir Mus sebagai sekretaris, serta Mubarak Taswin sebagai Bendahara Umum yang didukung Muhammad Saleh sebagai wakilnya.

Prosesi pelantikan berlangsung khidmat, ditandai dengan para pengurus yang mengenakan jas hitam dengan balutan kemeja putih. Satu per satu nama dipanggil, kemudian maju ke atas panggung dengan barisan yang tertata rapi, mencerminkan kesiapan mereka menjalankan amanah organisasi ICATT ke depan.

Namun menariknya, agenda ini tidak berhenti pada pelantikan semata. ICATT langsung tancap gas dengan menggelar dialog interaktif sebagai ruang eksplorasi potensi organisasi. Malingkai Ilyas menegaskan bahwa ICATT ingin memastikan seluruh kekuatan intelektual yang dimiliki dapat dimaksimalkan untuk menjawab tantangan sosial, khususnya di era digital.

Kegiatan ini juga dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh agama, perwakilan lintas agama, pimpinan organisasi masyarakat, hingga kalangan kepemudaan. Kehadiran lintas elemen ini memperlihatkan bahwa ICATT tidak berjalan sendiri, melainkan membuka ruang kolaborasi yang luas.

Di bawah kepemimpinan baru, ICATT menegaskan posisinya sebagai gerakan intelektual yang akan aktif membangun narasi Islam moderat di ruang digital. Fokus ini menjadi sangat relevan di tengah derasnya arus informasi yang kerap diwarnai konten provokatif dan intoleran. “ICATT ingin menghadirkan wajah Islam yang ramah, sejuk, dan inklusif, atau yang dikenal dengan konsep rahmatan lil alamin,” katanya usai pelantikan.

Malingkai menjelaskan, nilai-nilai seperti tawasuth (moderat), i’tidal (adil), dan keseimbangan akan menjadi fondasi utama gerakan ICATT. Narasi yang dibangun pun tidak asal, melainkan merujuk pada sumber-sumber otentik ajaran Islam, sehingga tetap kuat secara keilmuan namun mudah dipahami masyarakat luas.

Lebih jauh, ICATT juga akan aktif memberikan pemahaman keagamaan yang kontekstual. "penafsiran terhadap Al-Qur’an maupun perkembangan fikih harus disampaikan secara bijak, mengikuti dinamika zaman tanpa meninggalkan esensi ajaran. Inilah yang menjadi salah satu misi utama ICATT dalam mengedukasi masyarakat, "tambahnya.

Usai pelantikan, ICATT langsung menggelar rapat kerja untuk menyusun program strategis. Salah satu gebrakan yang cukup menyita perhatian adalah rencana pembentukan bidang khusus yang menangani pencegahan terorisme, radikalisme, dan ekstremisme. Langkah ini dinilai sebagai respons nyata terhadap meningkatnya narasi intoleransi di dunia digital.

"ICATT melihat bahwa ruang digital saat ini menjadi arena penting dalam membentuk opini publik. Oleh karena itu, organisasi ini berkomitmen untuk terlibat aktif dengan menghadirkan konten positif serta membangun kolaborasi lintas organisasi guna menciptakan ekosistem digital yang damai, "tuturnya.

Dengan arah baru ini, ICATT tidak hanya ingin menjadi organisasi alumni semata, tetapi juga motor penggerak perubahan sosial berbasis intelektualitas dan nilai-nilai moderasi yang kuat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....