Bakti dalam Konghucu Meliputi Kesehatan hingga Kesetiaan Kerja
- 10 Mei 2026 23:37 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Konsep bakti dalam agama Konghucu mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, jauh melampaui makna harfiah penghormatan seorang anak kepada orang tuanya. Hal ini disampaikan tokoh muda Konghucu sekaligus Wakil Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama atau FKUB Kota Makassar, Erfan Sutono Nio, S.Ft., Physio., M.H., dalam program Mimbar Agama Konghucu di RRI Pro 1 Makassar, Sabtu, 9 Mei 2026.
Erfan menjelaskan bahwa dalam kitab Xiaojing atau Kitab Bakti disebutkan bahwa di antara seluruh perilaku manusia, tiada yang lebih besar nilainya daripada laku bakti. Ia menguraikan bahwa kitab Liji atau Catatan Kesusilaan menetapkan lima perkara sebagai tolok ukur berbakti, mengurus rumah tangga dengan baik, setia kepada pimpinan, menjalankan kewajiban jabatan dengan sungguh-sungguh, dapat dipercaya dalam persahabatan, dan memiliki keberanian saat bertugas.
"Tubuh dan diri ini adalah warisan ayah bunda. Ketika kita tidak menjaga kesehatan kita, misalnya suka begadang dan tidak menjaga kebersihan tubuh, itu pun di dalam agama Konghucu adalah sesuatu yang tidak berbakti," ujar Erfan dalam program Mimbar Agama Konghucu RRI Pro 1 Makassar, Sabtu, 9 Mei 2026.
Ia menegaskan bahwa tidak terpenuhinya salah satu dari lima perkara tersebut sudah dikategorikan sebagai tidak berbakti. Erfan juga menyebutkan bahwa bahkan menyembelih hewan sebelum waktunya dan menebang pohon tidak pada waktu yang tepat termasuk dalam perilaku tidak berbakti menurut ajaran Konghucu.
"Rumah tangga tidak diatur baik-baik itu tidak berbakti. Mengabdi kepada pimpinan tidak setia itu tidak berbakti. Menjalankan kewajiban dalam jabatan tidak sungguh-sungguh itu tidak berbakti," kata Erfan mengutip kitab Liji.
Dalam agama Konghucu, lanjut Erfan, bakti kepada orang tua juga dipandang setara dengan bakti kepada Tuhan. Agama ini meyakini bahwa tidak mungkin seseorang sungguh-sungguh berbakti kepada Tuhan jika kepada orang tua sendiri ia abai dan tidak peduli.
"Tidak mungkin kita berbakti kepada Tuhan dengan jalan menolong orang lain, membantu orang lain, sedangkan orang tua sendiri kita tidak bantu, kita tidak tolong," ungkap Erfan.
Kitab Xiaojing menegaskan bahwa laku bakti adalah hukum suci Tuhan dan kebenaran bumi yang wajib menjadi perilaku setiap insan. Erfan menyimpulkan bahwa bakti hanya bermakna ketika ia lahir dari ketulusan hati, bukan dari paksaan atau keinginan mendapat pujian, dan terwujud dalam setiap langkah perilaku sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....