BMKG Prediksi Agustus Hingg Oktober Puncak Kemarau di Indoneia
- 06 Mei 2026 11:51 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – BMKG Mempredikis bahwa dampak El Nino akan mulai terasa pada puncak musim kemarau di bulan Agustus, September, Oktober, untuk itu Masyrakat dan Petani diharapkan bersiap. Demikian disampaikan Syamsul Bahri, Ketua Kelompok Kerja Data dan informasi BMKG Stasiun Klimotologi Sulawesi Selatan saat berbincang bersama RRI Lewat Dialog Interaktif Makassar Menyapa Pagi, Senin, 4 Mei 2026.
“Apalagi kita akan mengalami puncak musim kemarau di bulan Agustus, September, Oktober, itu akan merata dampak El Nino-nya,” kata Ketua Kelompok Kerja Data dan informasi BMKG Stasiun Klimotologi Sulawesi Selatan.
Dikatakan, Salah satu Dampak El Nino ialah mengurangi curah hujan sehingga terjadi defisit air. Untuk itu BMKG Menghimbau masyarakat agar efisein dalam penggunaan air khususnya air bersih serta pihak terkait yakni pemerintah ataupun PDAM bersiap akan terjadinya curah hujan yang lebih rendah dari biasanya.
“El Nino ini menambah kurangnya curah hujan, otomatis kita akan mengalami defisit air gitu ya, Mungkin masyarakat kami imbau untuk efisien dalam penggunaan air bersih, kemudian untuk pemerintah mungkin PDAM untuk bersiap-siap akan terjadinya curah hujan yang lebih rendah dibanding kebiasaannya begitupun juga untuk para petsani dalam menjaga pertanian mereka,” ungkap Syamsul Bahri kepada RRI.
Ancaman kekeringan ekstrem kini membayangi para petani dan penduduk di wilayah pesisir selatan Sulawesi Selatan. BMKG mengidentifikasi wilayah Selayar, Jeneponto, dan Takalar sebagai area pertama yang merasakan dampak kemarau tahun ini. Dampak ini diperparah dengan hadirnya fenomena El Nino yang mengurangi ketersediaan air tanah.
“Jadi memang saat ini sudah harus dipersiapkan ya, saat ini El Nino akan berdampak di Sulawesi Selatan bagian selatan, sudah mulai ada kering itu di daerah Selayar, kemudian Jeneponto, dan wilayah-wilayah Takalar bagian selatan, Jadi wilayah-wilayah itu yang akan berdampak lebih awal musim kemaraunya dibandingkan daerah lain seperti itu,” kata syamsul bahri.
Syamsul Bahri menjelaskan bahwa wilayah-wilayah tersebut memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan pola monson. Kondisi kering yang datang lebih awal dapat mengganggu jadwal tanam jika tidak diantisipasi dengan baik. Sektor pertanian di wilayah selatan harus mulai beradaptasi dengan keterbatasan pasokan air.
Puncak dampak El Nino diprediksi akan meluas ke seluruh Sulawesi Selatan pada bulan Agustus hingga Oktober. Pada periode tersebut, wilayah pesisir barat seperti Makassar, Maros, dan Pangkep juga akan merasakan kekeringan yang hebat. Distribusi air untuk lahan pertanian akan semakin kompetitif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....