Dokter Harus Kedepankan Kolaborasi dan Nilai Kemanusiaan
- 04 Mei 2026 15:00 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Pemanfaatan Learning Management System (LMS) dan teknologi AI sebagai filter informasi. Meskipun demikian, tetap mengedepankan logika medis manusia dalam pengambilan keputusan. Dosen Biokimia di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI), Sigit Dwi Pramono, kepada RRI mengungkapkan, selain aspek kognitif, FK UMI juga menitikberatkan pada pembentukan karakter melalui mata kuliah bioetik, profesionalisme, dan humaniora. Hal ini bertujuan agar calon dokter memiliki empati yang tinggi serta kemampuan komunikasi yang efektif, baik kepada pasien maupun dalam kolaborasi interprofesional dengan perawat dan tenaga medis lainnya.
“Kami memberikan kuliah kepada mahasiswa kami, bagaimana caranya menjadi dokter yang empati, memiliki komunikasi yang baik terhadap pasien. Bukan cuma kepada pasien, kepada sesama dokter, sesama tenaga medis seperti perawat, itu juga harus saling menghargai,” jelas Sigit. Senin, 04 Mei 2026.
Sigit menyebut, nilai-nilai etika diasah secara nyata melalui keterlibatan mahasiswa koas dalam bakti sosial dan aksi tanggap bencana di masyarakat. "Upaya ini dilakukan agar para lulusan mampu berkomunikasi dengan baik dan menjaga profesionalisme, sekaligus meminimalisir konflik antara dokter dan pasien yang kerap menjadi sorotan di media sosial, "tambahnya.
FK UMI telah menjalin kerja sama dengan lebih dari sepuluh institusi, baik di dalam maupun luar negeri, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengabdian masyarakat. Secara domestik, kolaborasi dilakukan dengan berbagai pihak seperti RRI dan BASARNAS, yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terjun langsung dalam aksi kemanusiaan, termasuk penanganan kecelakaan pesawat di Maros.
Lebih lanjut dikatakan Sigit, di kancah internasional, FK UMI bermitra dengan AMDA (Association of Medical Doctors of Asia) Jepang untuk penanggulangan bencana, serta memfasilitasi para dosen untuk melanjutkan studi PhD di Jepang dan Malaysia. Sinergi lintas sektor ini memastikan mahasiswa dan staf pengajar memiliki wawasan global serta pengalaman praktis yang luas.
Beberapa langkah telah dilakukan untuk menjaga kualitas lulusan, diantaranya dengan melangkah menuju akreditasi internasional. Hal tersebut diwujudkan melalui penerapan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), yang fokus pada pencapaian kompetensi nyata mahasiswa ketimbang sekadar hafalan.
Terkait upaya pemerataan kualitas kesehatan di Sulawesi Selatan, Sigit menilai langkah pembukaan fakultas kedokteran di berbagai daerah agar putra-putri daerah dapat kembali mengabdi di tanah kelahiran mereka, menjadi langkah yang tepat. Sebagai penutup, Sigit berharap lulusan kedokteran masa kini mampu menjadi praktisi yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tetap menjaga mutu pelayanan, dan senantiasa mengedepankan kolaborasi demi kepuasan serta keselamatan pasien.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....