Belajar Biokimia dari Teori Sel hingga Praktikum Nyata

  • 04 Mei 2026 14:04 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Biokimia merupakan fondasi utama ilmu kedokteran yang mempelajari reaksi kimia pada tingkat sel manusia. Biokimia menjadi dasar penting dalam memahami mekanisme penyakit serta pengembangan obat dan vaksin.

Dosen Biokimia di Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI), Sigit Dwi Pramono, kepada RRI mengungkapkan bahwa biokimia merupakan ilmu yang mempelajari proses kimia di dalam tubuh manusia pada tingkat sel yang paling kecil. Pada ilmu kedokteran akan berfokus pada reaksi kimia dalam tubuh, seperti hormon, enzim, dan DNA.

“Di kedokteran ini fokusnya biokimia ini pada tubuh manusia jadi semua reaksi-reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh manusia itu kita pelajari di biokimia. Terutama mungkin kalau kita pernah dengar penyakit-penyakit akibat gangguan hormon, penyakit-penyakit akibat kekurangan enzim, itu biokimia sebagai dasarnya,” jelas Sigit.

Sigit menjelaskan bahwa pembelajaran biokimia menuntut mahasiswa untuk berperan aktif. Tidak hanya mempelajari teori melalui tahapan hafalan, melainkan juga melakukan praktikum untuk membuktikan dan mengaplikan teori secara nyata. Senin, 04 Mei 2026.

“Mereka itu akan diberikan teori-teori dasar referensi. Kemudian, mereka menghapal bagaimana proses metabolisme misalnya dari kakohidrat lemak, protein bagaimana proses pembentukan energi di dalam sel. Namun, mereka nanti akan mengaplikasinya di dalam praktikum,” jelas Sigit.

Diakui Sigit, dunia pendidikan kedokteran saat ini telah mengalami pergeseran paradigma dari model satu arah menjadi sistem pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student-centered learning). Jika dulu proses kuliah cenderung pasif karena hanya mengandalkan penjelasan dari dosen, kini mahasiswa dituntut untuk lebih proaktif dan mandiri dalam mencari ilmu.

Melalui semangat partisipasi semesta dan dukungan teknologi digital seperti AI, mahasiswa didorong untuk keluar dari ruang kelas dan belajar langsung dari masyarakat. Olehnya itu, sumber informasi tidak lagi bersifat tunggal, melainkan hasil dari interaksi aktif antara dosen, mahasiswa, dan lingkungan sekitar untuk menciptakan lulusan yang lebih kompeten dan adaptif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....