Khutbah Jumat di Masjid Al Muawanah Mengupas Jejak Kebaikan dengan Iman

  • 01 Mei 2026 12:46 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Suasana ibadah shalat Jumat di Masjid Al Muawanah RRI Makassar pada Jumat 1 mei 2026 atau bertepatan dengan 13 Dzulqa'dah 1447 H berlangsung khusyuk. Khatib pada kesempatan tersebut, Ust. Haeruddin, S.Pd., M.Pd., membawakan khutbah bertema Meningkatkan Jejak Kebaikan, dengan Imam shalat Akbar Bintang.

Pelaksanaan ibadah ini disiarkan secara langsung melalui RRI Pro 1 pada frekuensi 94.4 MHz dan Pro 4 pada frekuensi 92.5 MHz, sehingga dapat menjangkau pendengar di berbagai wilayah.

Dalam khutbahnya, Ust. Haeruddin menjelaskan mengenai tafsir Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Allah SWT mencatat semua perbuatan manusia, baik berupa amal saleh maupun perbuatan keji. Ia menekankan bahwa setiap manusia meninggalkan jejak atau atsar setelah mereka meninggal dunia. Jejak-jejak tersebut dapat berupa kebaikan maupun keburukan yang akan terus mengalir meskipun yang bersangkutan telah tiada.

Ustd Haeruddin Saat Membawakan Khutbah Jum'at Di masjid Al Muawanah RRI Makassar.

Lebih lanjut, Ust. Haeruddin menguraikan bahwa jejak kebaikan (Al-Hasanah) meliputi amal jariyah yang bermanfaat bagi orang banyak. Contoh dari jejak kebaikan ini seperti mengajarkan ilmu yang bermanfaat serta mewakafkan tanah atau bangunan. "Seperti membangun masjid, rumah tahfidz, atau sentra pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan, pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah lama meninggal," ujarnya.

Sebaliknya, khatib juga memberikan peringatan keras terkait jejak keburukan yang ditinggalkan seseorang, terutama yang berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan. Imam Al-Baidhawi menjelaskan bahwa jika seseorang menggunakan kekuasaannya untuk melegalkan kebatilan—seperti menandatangani izin tempat yang mengundang kemaksiatan—maka ia akan menanggung dosanya. Hal ini berlaku karena mereka telah menjadi peletak dasar keburukan yang akibatnya terus dirasakan.

Sebagai peringatan, khatib merujuk pada Al-Qur'an Surah An-Nahl ayat 24-25, yang menceritakan bagaimana orang-orang kafir menyebut wahyu Allah sebagai dongeng orang dahulu agar masyarakat menjauhi kebenaran. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa mereka akan memikul dosa-dosa mereka secara penuh, serta memikul dosa orang-orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu. Hal ini menunjukkan betapa bahayanya perbuatan yang menjauhkan manusia dari ajaran agama.

Ust. Haeruddin kemudian mengingatkan pandangan Imam Al-Ghazali mengenai bahaya dosa jariyah, yakni sebuah kecelakaan bagi seseorang yang telah meninggal dunia namun dosanya tidak ikut mati dan terus mengalir. Hal ini sangat relevan di era modern, di mana jejak keburukan bisa tercipta melalui lisan, tulisan, maupun rekam jejak digital. Dampak dari apa yang kita bagikan dapat menyebabkan nilai-nilai keburukan menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.

Menutup khutbahnya, Ust. Haeruddin mengajak seluruh jamaah dan pendengar untuk senantiasa berhati-hati dan bijak dalam bertutur kata, bersikap, maupun mengambil kebijakan. Semua tindakan dan rekam jejak yang kita tinggalkan akan menjadi pertanggungjawaban di masa depan. Beliau berharap agar umat Islam dapat terus meningkatkan jejak kebaikan dan meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi umat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....