Unhas Perkuat Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim

  • 23 Apr 2026 19:41 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar — Momentum Hari Kartini dan Hari Bumi 2026 dimanfaatkan Universitas Hasanuddin bersama masyarakat sipil di Makassar untuk memperkuat kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim melalui forum dialog bertajuk Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia.

Kegiatan yang digelar di kampus Universitas Hasanuddin, Kamis, 23 April 2026, dihadiri sekitar 120 peserta dari kalangan civitas akademika. Forum diselenggarakan oleh The Asia Foundation melalui program Women Forest Defenders (WFD) bersama Tim Layanan Kehutanan Masyarakat (TLKM), bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unhas serta Forest Society Research Group Fakultas Kehutanan.

Perubahan iklim dinilai menjadi tantangan global yang berdampak luas terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Dalam berbagai situasi, perempuan menjadi kelompok yang rentan terdampak, namun juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan melalui pengetahuan lokal, praktik adaptasi, dan kepemimpinan di tingkat tapak.

Indonesia disebut terus menunjukkan komitmen dalam aksi iklim melalui penguatan program Perhutanan Sosial. Hingga tahun 2026, akses kelola masyarakat telah mencapai 8,33 juta hektare. Program tersebut dinilai tidak hanya menjaga kelestarian hutan, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan ekonomi berbasis hutan.

Dalam forum itu, para narasumber membagikan pengalaman tentang kepemimpinan perempuan dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Kisah-kisah yang disampaikan menunjukkan bahwa perempuan mampu mengambil peran sentral dalam menentukan arah pembangunan dan pengelolaan lingkungan.

Salah satu penanggap, Vika Faradibha, menyoroti rendahnya keterlibatan perempuan dalam kelompok tani hutan yang disebut baru sekitar dua persen.

“Data menunjukkan hanya sekitar 2 persen perempuan yang terlibat dalam kelompok tani hutan. Kehadiran Ibu Nur Hidayah sebagai pemimpin kelompok tani adalah kemajuan penting,” ujar Vika.

Sementara itu, Suryani menegaskan perempuan tidak boleh hanya menjadi pelengkap dalam program lingkungan.

“Perempuan tidak boleh hanya jadi pelengkap dalam program seperti Kampung Iklim atau Lorong Wisata. Perempuan harus tahu akar masalahnya agar bisa menawarkan solusi yang tepat sesuai kebutuhan mereka di tingkat tapak,” kata Suryani.

Penanggap lainnya, Ana Buana mengapresiasi gerakan Hajah Sinar sebagai contoh sukses aksi kolektif masyarakat.

“Gerakan Ibu Hajah Sinar menjadi contoh sukses collective action di tingkat tapak yang mampu mengembalikan rencana pembangunan ke lokasi awal sesuai tata ruang di Antang,” ujarnya.

Forum ditutup dengan kesimpulan moderator bahwa perempuan telah menunjukkan aksi nyata dalam memperjuangkan ruang hidup dan akses ekonomi, mulai dari advokasi anggaran hingga perlindungan lingkungan dari ancaman industri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....