Pengaruh Kebijakan Kepsek: Gaungkan Bahasa Daerah di Sekolah

  • 18 Apr 2026 22:17 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Menghadirkan bahasa daerah Bugis sebagai roh untuk menghidupkan nilai adab penghormatan jati diri dengan program-program sekolah yang tentunya berbasis bahasa daerah sebagai relevansi bahasa daerah di tengah gempuran tren bahasa asing. Hal ini di ungkapkan Rahmaniar, S.S., S.Pd., M.Hum., Gr. Kepala UPTD SMPN 5 Parepare dalam Obrolan Apresiasi Budaya Lokal Pro4 RRI Makassar pada hari Jumat, 17 April 2026.

Rahmaniar mengatakan sebenarnya dalam struktur mata pelajaran bahasa daerah itu tidak ada di UPTD SMP Negeri 5 sejak ia diamanahkan jabatan sebagai kepala sekolah yang baru dua bulan di UPTD SMP Negeri 5. Ia ingin membuat program mata pelajaran bahasa daerah hanya tidak langsung bisa diterapkan karena belum memasuki tahun ajaran baru.

“Alasan utamanya membuat program bahasa daerah Bugis di tempatnya memimpin adalah bagaimana meningkatkan kesadaran bahwa, bahasa daerah ini adalah akarnya untuk bagaimana mengajarkan rasa hormat, kesatuan dan tentunya kearifan lokal yang tidak dapat kita temukan di bahasa gaul, bahasa daerah bukan sekedar alat komunikasi melainkan pembawa nilai dan karakter siswa serta sebagai penyeimbang antara identitas global dengan wawasan global ”, ucap Rahmaniar.

Rahmaniar menambahkan kebijakan yang ia lakukan di sekolah sebagai kepala sekolah yang diamanahkan ingin membangun ekosistem sekolah yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi bagaimana sekolah yang dipimpinnya. Ini bisa menjadikan anak-anak didiknya bisa berkarakter kuat dan berbudaya dengan harapan siswa tidak hanya cerdas, tetapi juga tahu tentang siapa dirinya, dari mana asalnya, dan nilai apa yang harus mereka jaga melalui bahasa daerah.

“Bentuk-bentuk konkret penerapan yang sudah di lakukan selama dua bulan ini adalah pertama, menghadirkan tangga literasi lontara di sekolah kami kebetulan berbukit dengan memanfaatkan setiap tangganya itu ada tangga literasi. Literasinya itu dalam bentuk sastra pappaseng Bugis yang setiap satu tangga anak-anak (Siswa/Siswi) akan singgah membaca nilai-nilai pappaseng tersebut”, terang Rahmaniar.

Selain itu, gaung bahasa daerah di sekolah bukan hanya siswa tetapi juga tentu guru dan tenaga kependidikan bahkan sebenarnya dengan orang tua dan masyarakat sekitar. Komunikasi yang menggunakan bahasa ibu sering kali terasa lebih hangat dan tulus, sehingga menciptakan sinergi yang lebih kuat dalam mendidik karakter anak.

Orang tua merasa lebih terlibat ketika sekolah menunjukkan komitmen nyata untuk menjaga tradisi yang mereka anut secara turun-temurun, yang pada akhirnya meningkatkan dukungan masyarakat terhadap program-program sekolah termasuk program yang bersentuhan dengan bahasa daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....