Cheng Beng, Tradisi Ziarah Kubur Tionghoa Setiap Awal April
- 02 Apr 2026 16:31 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar – Tradisi ziarah kubur Cheng Beng yang dilakukan umat Tionghoa setiap awal bulan April menjadi momen penting untuk mengenang jasa-jasa leluhur yang telah mendahului. Ziarah ini tak hanya sekadar ritual tahunan tetapi juga merupakan sarana untuk memperkenalkan generasi muda kepada sejarah dan pengorbanan keluarga mereka.
Tradisi ini memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal dan menghormati leluhur mereka, seperti kakek, nenek atau anggota keluarga yang telah meninggal, sekaligus menanamkan nilai-nilai pengorbanan yang telah mereka berikan. Menurut ajaran Buddha, terdapat dua tipe manusia yang sulit ditemukan di dunia ini, yakni orang yang mengingat jasa orang dan orang yang tahu berterima kasih (katavedi)..
Ziarah kubur Cheng Beng menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan generasi muda untuk mengingat dan berterima kasih atas pengorbanan leluhur yang telah mendahului mereka. Hal ini penting agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang menghargai perjuangan orang lain, terutama orang tua dan leluhur.
Pada ajaran Buddha, berbakti kepada orang tua bukan hanya melalui ritual seperti ziarah kubur tetapi juga melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara membalas jasa orang tua adalah dengan menjalani kehidupan yang bermoral dan penuh kebajikan. Anak-anak diajarkan untuk memberi teladan dengan perilaku baik seperti berdana, bersabar dan berbuat kebajikan. Teladan ini diharapkan dapat menginspirasi orang tua untuk ikut berbuat kebajikan dan menjalani hidup dengan penuh kebaikan.
Salah satu nilai penting dalam ajaran Buddha adalah pengajaran untuk menghormati orang tua yang masih hidup. Ajaran ini menegaskan bahwa orang tua yang masih hidup adalah "Brahma dalam rumah", yang berarti mereka adalah sosok yang layak dihormati dan dihargai. Berbakti kepada orang tua harus dilakukan sepanjang hidup mereka bukan hanya dalam ritual tertentu seperti ziarah kubur.

Dalam kesempatan siaran Mimbar Agama Buddha di Pro 1 RRI Makassar, Romo Ir. Bumi Horas, M.Pd menekankan bahwa tradisi ziarah kubur Cheng Beng adalah momen yang baik untuk mengenang jasa orang tua dan leluhur, namun yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani hidup dengan kebajikan setiap hari. Menurut Romo Bumi, penghormatan yang sesungguhnya terhadap orang tua dan leluhur adalah dengan menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur.
Lebih lanjut, Romo Bumi menjelaskan bahwa ajaran Buddha mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang tua sepanjang hidup mereka. Ziarah kubur menjadi cara untuk mengenang mereka, namun berbakti kepada orang tua melalui kehidupan yang penuh moralitas jauh lebih utama. Selain itu, Romo Bumi juga mengingatkan bahwa dalam ajaran Buddha, setiap individu bertanggung jawab atas karmanya sendiri. Oleh karena itu, hubungan antara orang tua dan anak terjadi karena adanya kecocokan karma di masa lalu yang harus dijaga dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Romo Bumi juga mengajak umat Buddha di Makassar untuk menjaga dan melestarikan tradisi Cheng Beng dengan cara yang bijak. Penghormatan kepada orang tua dan leluhur tidak hanya dilakukan dengan ritual tetapi lebih kepada memberikan teladan moral yang baik dan berbuat kebajikan sepanjang hidup. Hal ini menjadi bentuk penghormatan yang lebih bermakna, baik kepada orang tua yang masih hidup maupun yang telah meninggal.
Dengan terus menghidupkan tradisi Cheng Beng ini, umat Tionghoa tidak hanya mengenang jasa leluhur yang telah meninggal tetapi juga mengajarkan anak-anak untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan penuh rasa terima kasih dan kebajikan. Penghormatan ini mengajarkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah tanggung jawab sepanjang hidup dan bukan hanya pada saat-saat tertentu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....