Dugaan Kelalaian Layanan di Puskesmas Tanralili, Pasien Berakhir Dirawat di Rumah

  • 27 Mar 2026 15:03 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Maros- Pelayanan kesehatan di Puskesmas Tanralili menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan penelantaran pasien yang berujung pada pemulangan paksa sebelum mendapatkan pemeriksaan dokter. Peristiwa ini terjadi pada Selasa, 24 Maret 2026, dan menimpa seorang pasien bernama Indra Lalana Taba.

Keluarga pasien mengungkapkan kekecewaan mendalam atas kejadian tersebut. Syarifuddin, kerabat dekat pasien, menuturkan bahwa Indra awalnya menjalani perawatan sejak beberapa hari sebelumnya, tepatnya saat momen Idulfitri. Namun, selama menjalani perawatan, pasien disebut hanya ditangani oleh perawat tanpa pernah diperiksa langsung oleh dokter.

“Selama dirawat, tidak ada dokter yang memeriksa. Hanya perawat saja yang menangani, memberikan obat dan memasang infus,” ungkap Syarifuddin, Kamis, 26 Maret 2026.

Menurut kronologi yang disampaikan, pada siang hari 24 Maret, seorang perawat tiba-tiba melepas infus pasien dan meminta agar pasien dipulangkan. Alasan yang disampaikan saat itu karena banyaknya pembesuk yang dianggap mengganggu kondisi pelayanan di puskesmas. “Perawat bilang pasien sudah membaik dan harus pulang karena terlalu banyak pembesuk. Padahal kondisi pasien belum stabil,” jelasnya.

Keluarga sempat melayangkan protes atas tindakan tersebut. Bahkan, pihak puskesmas sempat berupaya kembali memasang infus untuk melanjutkan perawatan. Namun, pasien yang merasa kecewa akhirnya menolak untuk dirawat kembali dan memilih pulang ke rumah.

Tak lama setelah itu, pihak puskesmas disebut mendatangi rumah pasien.

Seorang dokter kemudian melakukan pemeriksaan langsung sekitar pukul 17.30 WITA. Dalam pemeriksaan tersebut, dokter menyatakan kondisi pasien masih belum stabil dan menyarankan pemeriksaan lanjutan, termasuk tes laboratorium serta kemungkinan perawatan kembali di puskesmas.

Namun, karena terlanjur kecewa terhadap pelayanan sebelumnya, pasien menolak untuk kembali dirawat.

Kondisi pasien dilaporkan sempat memburuk setelah dipulangkan. Pada keesokan harinya, Rabu (25/3), keluarga akhirnya membawa Indra ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Hingga kini, pasien masih menjalani perawatan intensif.

Syarifuddin menilai, alasan banyaknya pembesuk tidak seharusnya menjadi dasar pemulangan pasien, terlebih dalam konteks masyarakat pedesaan yang memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat, apalagi masih dalam suasana Lebaran.

“Di kampung, wajar kalau banyak keluarga datang menjenguk. Itu bagian dari dukungan moral. Seharusnya ada kebijakan yang lebih bijak, bukan langsung memulangkan pasien,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa dugaan pelayanan yang kurang optimal di puskesmas tersebut bukan kali pertama terjadi. Beberapa warga disebut pernah mengalami hal serupa, mulai dari keterbatasan pelayanan hingga persoalan administrasi seperti kepesertaan jaminan kesehatan.

Atas kejadian ini, keluarga pasien mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Maros untuk segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen dan standar pelayanan di Puskesmas Tanralili. “Kami minta ada evaluasi serius agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Pelayanan kesehatan harus mengedepankan kemanusiaan,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Puskesmas Tanralili belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pemulangan pasien tersebut. Sementara itu, masyarakat berharap ada transparansi dan perbaikan sistem pelayanan guna menjamin keselamatan serta hak pasien dalam memperoleh layanan kesehatan yang layak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....