Sherly Tjoanda Bongkar Kisah Hidup yang Menginspirasi di PSBM 2026

  • 26 Mar 2026 17:14 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Kisah perjalanan hidup Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menjadi sorotan dalam forum Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI. Dalam forum yang digelar di Hotel Claro Makassar, Kamis, 26 Maret 2026, Sherly Tjoanda membagikan cerita perjuangan keluarganya yang berakar dari kehidupan sederhana di Kota Makassar.

Dalam pemaparannya, Sherly Tjoanda mengisahkan bagaimana sang ayah lahir, tumbuh, dan menempuh pendidikan di Makassar dengan segala keterbatasan. Masa muda ayahnya diwarnai dengan perjuangan ekonomi, bahkan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari harus dilakukan dengan sangat hemat.

Ia mengungkapkan, sang ayah kerap bercerita tentang pengalaman sederhana saat menikmati makanan khas Makassar, yakni ‘nyuknyang’ atau bakso, yang menjadi simbol perjuangan hidup di masa lalu. “Papa saya lahir di Makassar, sekolah di Makassar, besar di Makassar. Dulu cerita kalau makan nyuknyang di situ belinya cuma satu mangkuk, tiga potong daging, kuahnya yang banyak, nasinya dua piring karena katanya uangnya tidak ada,” jelas Sherly Tjoanda.

Pengalaman hidup yang penuh keterbatasan tersebut justru menjadi titik balik yang membentuk karakter kerja keras sang ayah. Sherly Tjoanda menjelaskan, setelah menempuh pendidikan di sekolah teknik, ayahnya mulai merintis usaha dari bengkel kecil yang kemudian berkembang secara bertahap.

Dari usaha sederhana tersebut, perjalanan bisnis keluarga terus mengalami pertumbuhan. Sang ayah kemudian mengembangkan keahlian di bidang perkapalan hingga akhirnya mampu memiliki satu kapal, yang kemudian berkembang menjadi puluhan kapal. Perjalanan itu tidak berhenti di sana, karena usaha juga merambah sektor pengolahan hasil laut dengan membangun fasilitas cold storage.

Seiring waktu, usaha tersebut berkembang pesat hingga mampu menembus pasar ekspor ke berbagai negara. Sherly Tjoanda menilai, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang besar.

Sherly Tjoanda mengakui bahwa dirinya lahir dalam kondisi yang jauh lebih baik dibandingkan masa kecil ayahnya. Namun demikian, nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan keluarganya tetap menjadi fondasi utama dalam menjalani peran sebagai pemimpin. “Saya lahir sudah nyaman, tidak memulai dari nol. Tapi saya belajar dari Papa bahwa untuk sukses kita harus bermanfaat bagi orang lain,” kata Sherly Tjoanda.

Selain itu, Sherly Tjoanda juga menekankan pentingnya menjaga integritas serta membangun jejaring yang kuat dalam dunia usaha maupun pemerintahan. Ia menilai bahwa networking dan kolaborasi menjadi faktor penting dalam membuka peluang dan memperluas dampak pembangunan.

Menurut Sherly Tjoanda, menjadi pribadi tangguh bukan berarti terhindar dari kegagalan. Justru, kegagalan merupakan bagian dari proses yang harus dilalui untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar. “Tangguh itu bukan berarti tidak pernah jatuh. Tapi ketika jatuh kita bangkit lagi, kita adaptif dan lincah menghadapi perubahan,” katanya.

Dalam forum tersebut, Sherly Tjoanda juga menyoroti peran penting Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan sebagai wadah yang memperkuat ekosistem saudagar Bugis Makassar. Ia menilai, lingkungan yang solid dan saling mendukung menjadi kekuatan utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sherly Tjoanda menegaskan bahwa kolaborasi dan kebersamaan menjadi kunci dalam menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Ia melihat PSBM sebagai ruang strategis untuk mempertemukan para pengusaha, pemimpin, dan pemangku kepentingan dalam membangun masa depan bersama. “Begitu banyak orang hebat di ruangan ini yang akan bersama-sama saling membantu, menarik satu sama lain untuk tumbuh dan maju bersama,” tutupnya.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....