Pemerintah Sulsel Dorong Desa Wisata Jaga Budaya Lokal
- 18 Mar 2026 19:19 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus mendorong pengembangan desa wisata sebagai motor penggerak ekonomi baru yang berbasis pada kearifan lokal. Berbeda dengan destinasi wisata umum, desa wisata mengedepankan keaslian dan keterlibatan masyarakat setempat sebagai daya tarik utama.
Pejabat Fungsional Adhiyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Sulsel, Muhammad Ibrahim Halim, mengungkapkan desa wisata ini berbeda dengan destinasi wisata pada umumnya. “Definisi desa wisata itu adalah segala sesuatu, segala potensi yang dimiliki oleh sebuah desa, yang kemudian itu berpotensi menjadi menarik buat orang-orang pada berdatangan,” jelas Ibrahim dalam Suara Nsantara Pro 1 RRI Makassar, Rabu, 18 Maret 2026.
Sebuah desa dapat dikategorikan sebagai desa wisata jika memenuhi lima aspek utama. Diantaranya, daya tarik (alam, budaya, atau kuliner), keaslian (otentisitas), ketersediaan homestay, infrastruktur pendukung, serta kelembagaan seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Dijelaskan, Sulawesi Selatan memiliki banyak potensi desa wisata yang siap dikembangkan dengan kekayaan budaya yang sangat beragam, dengan kekayaan potensi yang sangat beragam. Ibrahim memaparkan beberapa desa wisata yang terdapat di Sulawesi Selatan yang mempertahankan ciri khas budaya sebagai daya tarik dari desa wista.
Desa Wisata Tompobulu yang terdapat di Kabupaten Pangkep memiliki tradisi unik yang mana pasangan pengantin wajib menikah di hari Jumat dan menanam pohon sebagai simbol pelestarian lingkungan. “Hal ini membuat desa wisata Tompobulu sampai hari ini terpelihara keasriannya, terpelihara hijaunya, dan terpelihara statusnya sebagai hutan yang menjadi penyangga terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia, terhadap oksigen, paru-paru dunia,” terang Ibrahim.
Selanjutnya, terdapat desa wisata di Sulawesi Selatan yang memiliki basis budaya lokal yang kuat yaitu ada di Kebupaten Sinjai, ada namanya desa wisata Barania. Desa Wisata Barania (Kab. Sinjai) yang mengunggulkan nilai hospitality atau keramahtamahan khas Bugis, di mana tamu diperlakukan layaknya keluarga sendiri.
Selain itu, terdapat Desa Lembang Nonongan & Lando Rundun (Toraja) yang konsisten mempertahankan tradisi Rambu Solo dan pemakaman di tebing batu yang mendunia. Masyarakat terus memelihara tradisi-tradisi lokal yang di Toraja sehingga menarik simpati dari publik untuk terus berkunjung.
Ibrahim juga menekankan bahwa status "desa" tidak hanya terbatas pada wilayah administratif pedesaan. Wilayah perkotaan seperti Desa Wisata Lantebung di Makassar dan Desa Wisata Kambo di Palopo juga berhasil berprestasi karena mampu mempertahankan tradisi lokal, seperti permainan gasing dan pelestarian mangrove melalui peran local hero. Pengembangan desa wisata diharapkan tidak hanya menjual keindahan visual, tetapi juga menarasikan sejarah dan identitas lokal yang kuat guna menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....