Tips Psikolog agar Mudik Tetap Menyenangkan: Menjaga Waras di tengah Kemacetan

  • 16 Mar 2026 11:40 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID,Makassar – Tradisi mudik lebaran seringkali menjadi momen yang paling dinantikan sekaligus mendebarkan bagi masyarakat Indonesia. Namun, perjalanan panjang dan tantangan di jalur mudik tak jarang memicu stres yang berdampak pada kesehatan mental keluarga. Menanggapi fenomena ini, program Pengarusutamaan Gender PRO1 RRI Makassar edisi Senin, 16 Maret 2026, menghadirkan Novita Maulidya Jalal, M.Si., Psikolog, yang juga merupakan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), sebagai narasumber yang hadir secara daring.

Dalam perbincangan yang dipandu oleh presenter Risna Supratio, Novita menekankan bahwa persiapan psikologis sama pentingnya dengan persiapan fisik dan kendaraan. Menurutnya, ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap kelancaran perjalanan seringkali menjadi pemicu utama kekecewaan. "Mudik yang menyenangkan dimulai dari manajemen ekspektasi. Kita harus siap secara mental bahwa kemacetan atau kendala di jalan adalah bagian dari seni perjalanan, sehingga kita tidak mudah meledak saat situasi tidak sesuai rencana," ujar Novita.

Lebih lanjut, Novita menyoroti pentingnya komunikasi asertif antar anggota keluarga selama di perjalanan. Mengingat ruang gerak yang terbatas di dalam kendaraan dalam durasi lama, gesekan emosional sangat mungkin terjadi. Ia menyarankan agar setiap anggota keluarga memiliki ruang untuk menyampaikan keluh kesah tanpa harus saling menyalahkan. Komunikasi yang sehat akan menjaga suasana kabin tetap harmonis meskipun cuaca di luar sedang terik atau lalu lintas sedang padat merayap.

Perspektif gender juga menjadi bahasan menarik dalam siaran ini, di mana Novita mengingatkan pentingnya pembagian peran yang adil antara suami dan istri selama mudik. Beban domestik saat di perjalanan, seperti mengurus anak atau menyiapkan bekal, sebaiknya tidak hanya bertumpu pada satu pihak. "Kerja sama tim dalam keluarga sangat krusial. Ketika peran dibagi secara adil, tingkat kelelahan psikis bisa ditekan, dan mudik tidak lagi menjadi beban bagi salah satu pihak saja," jelasnya dalam sesi tanya jawab bersama Risna Supratio.

Novita juga memberikan tips praktis bagi pemudik untuk melakukan self-regulation atau pengaturan diri saat emosi mulai meningkat. Teknik pernapasan sederhana atau mendengarkan musik kegemaran bisa menjadi alat bantu untuk menenangkan sistem saraf yang tegang akibat kelelahan. Selain itu, menyelingi perjalanan dengan istirahat yang cukup di rest area bukan hanya untuk memulihkan fisik, tetapi juga untuk memberikan penyegaran pada pikiran agar tetap fokus dan waspada.

Bagi keluarga yang membawa anak kecil, Novita menyarankan agar orang tua menyiapkan aktivitas kreatif yang dapat mengalihkan kebosanan anak tanpa harus bergantung sepenuhnya pada gawai. Membawa mainan favorit atau melibatkan anak dalam permainan tebak-tebakan sepanjang jalan dapat membangun ikatan emosional yang kuat. Hal ini sejalan dengan prinsip pengarusutamaan gender di mana pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama yang harus dinikmati dengan penuh kegembiraan.

Menutup perbincangan, Novita Maulidya Jalal berpesan agar masyarakat tidak melupakan esensi dari mudik itu sendiri, yaitu silaturahmi. Ia berharap para pemudik bisa tiba di kampung halaman tidak hanya dengan selamat secara fisik, tetapi juga dalam keadaan mental yang sehat. "Ingatlah bahwa tujuan akhir kita adalah bertemu orang-orang terkasih. Jangan sampai energi kita habis karena marah-marah di jalan, sehingga saat sampai di rumah tujuan, kita justru kehilangan keceriaan," pungkas Novita mengakhiri sesi daring tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....