Syamsiar Tekankan Pentingnya Batasan Gadget Bagi Anak
- 15 Mar 2026 21:14 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Fenomena anak usia dini yang sudah mahir mengoperasikan perangkat digital menjadi tantangan besar bagi para orang tua di era modern. Syamsinar S.Sos., M.Sos, dari Ikatan Dai Muda Indonesia, mengingatkan bahwa meskipun anak-anak lahir di era digital, orang tua tidak boleh lepas tangan dan harus tetap memberikan batasan yang jelas dalam penggunaan teknologi.
"Anak-anak kita ini hidup di era digital, mereka sangat familiar dengan gadget. Jangan kita melarang keras atau memberikan ultimatum, tapi kita harus fleksibel melihat keadaan. Orang tua harus pintar memanfaatkan teknologi itu untuk mendidik mereka," ujar Syamsinar dalam dialog bersama RRI Makassar, Sabtu, 14 Maret 2026.
Menurutnya, penggunaan gadget harus dibarengi dengan kontrak waktu yang disepakati bersama. Dijelaskan, hal ini bertujuan agar anak tetap memiliki kedisiplinan dan tidak meninggalkan kewajiban utamanya sebagai pelajar dan hamba Tuhan, seperti belajar dan mengaji. "Kita tetap memberikan dia kesempatan tapi dengan catatan, misalnya mulai jam ini sampai jam ini. Nanti digunakan pada saat sudah belajar atau sudah mengaji, baru boleh main HP. Kita harus kasih batasan yang jelas," tambahnya.
Selain batasan waktu menurut Syamsiar, peran ibu dan ayah dalam mengarahkan konten edukatif sangat krusial. Syamsinar menyarankan agar orang tua aktif mencarikan aplikasi atau video pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, seperti tata cara salat dan doa harian. "Sebagai orang tua kita harus belajar menggunakan aplikasi edukatif, misalnya video cara salat atau cara berdoa. Berikan dia masukan doa-doa pendek yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari anak kita," jelas Syamsinar.
Syamsinar juga menekankan bahwa keteladanan adalah kunci utama dan orang tua tidak boleh bersikap otoriter, melainkan harus menunjukkan perilaku baik. "Jangan menjadi orang tua yang otoriter atau keras. Kita harus fleksibel dan memberikan contoh perilaku kita sendiri, bagaimana berkomunikasi yang baik dan menunjukkan rasa hormat kepada yang lebih tua. Madrasatul umma di rumah itu adalah ibunya," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mendorong orang tua untuk melatih daya kritis anak agar tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi dalam memecahkan masalah. "Berikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk berpikir secara kritis dan kreatif. Jangan sampai dia terlena dengan kehidupan digital sehingga tidak bisa memecahkan masalahnya sendiri tanpa teknologi," tegasnya.
Ia berpesan agar komunikasi dua arah selalu terjaga. "Buka komunikasi yang baik dan selalu terbuka. Jangan sampai anak punya masalah tapi orang lain yang lebih tahu daripada kita. Kita harus mendengarkan mereka curhat dengan sabar agar hubungan terbangun lebih kuat," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....