WALHI Sulsel Konsolidasikan Komunitas Pecinta Alam

  • 13 Mar 2026 20:12 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan menginisiasi pertemuan bertajuk konsolidasi pecinta alam yang mempertemukan berbagai komunitas dan organisasi pecinta alam di Sulawesi Selatan. Kegiatan yang berlangsung di Kopi Tiam Makassar, Jumat, 13 Maret 2026 ini bertujuan memperkuat solidaritas gerakan lingkungan sekaligus merancang agenda kolaborasi dalam upaya penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup di masa mendatang.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Ifah yang bertindak sebagai Master of Ceremony sekaligus Kepala Divisi Perlindungan Ekosistem Esensial WALHI Sulawesi Selatan. Dalam pembukaan kegiatan, ia menegaskan bahwa pertemuan ini tidak sekadar menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang refleksi untuk melihat kondisi lingkungan saat ini serta memperkuat solidaritas gerakan pecinta alam dalam memperjuangkan keadilan ekologis.

“Kegiatan ini diselenggarakan WALHI dan bukan hanya diskusi sebatas diskusi, tapi ini akan menjadi jalan untuk melihat kondisi lingkungan hari ini, menjaga solidaritas dan memperjuangkan keadilan ekologis. Lahir energi baru untuk memperkuat solidaritas dari gerakan pecinta alam,” ujar Ifah dalam kegiatan tersebut.

Direktur WALHI Sulawesi Selatan, Muhammad Al Amin, menjelaskan bahwa konsolidasi ini penting untuk mempertemukan kembali berbagai organisasi pecinta alam yang selama ini bergerak secara terpisah. Ia menilai pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mendiskusikan arah perjuangan gerakan pecinta alam dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks.

Menurutnya, keberadaan komunitas pecinta alam di ruang-ruang advokasi dan pemulihan lingkungan saat ini mulai berkurang. Karena itu, pertemuan ini diharapkan mampu mendorong munculnya kembali peran aktif pecinta alam dalam berbagai upaya pelestarian lingkungan hidup di Sulawesi Selatan.

Sementara itu, Jaya yang mewakili komunitas Kharisma SCA menilai berkurangnya keterlibatan pecinta alam dalam gerakan advokasi lingkungan tidak terlepas dari perubahan kurikulum pembinaan di organisasi pecinta alam. Ia menyebut kegiatan pembinaan saat ini lebih banyak berfokus pada kemampuan bertahan hidup di alam bebas dibandingkan dengan pembahasan kritis terkait isu kerusakan lingkungan.

“Kegiatan kedepannya harus membangun kesadaran kritis pecinta alam, dan kurikulum dalam perekrutan anggotanya itu tidak hanya sebatas bagaimana survive di alam bebas. Saat ini sangat jarang saya lihat pembahasan kritis soal kerusakan lingkungan yang masif terjadi,” kata Jaya.

Dalam sesi diskusi lainnya, Hirsan dari PKPA Gowa menambahkan bahwa selama ini banyak organisasi pecinta alam yang bergerak sendiri-sendiri dan cenderung nyaman dengan kegiatan internalnya. Ia berharap melalui konsolidasi ini, berbagai organisasi dapat membangun jaringan yang lebih kuat serta merancang kegiatan advokasi bersama dalam upaya penyelamatan lingkungan. “Perencanaan ke depan, kegiatan-kegiatan advokasi sangat penting melibatkan pecinta alam karena jangkauan mereka luas. Konsolidasi ini akan menjadi jalan terbaik untuk mewujudkan keadilan ekologis,” ujar Asmin dalam forum diskusi tersebut.

Momentum kegiatan Jambore Pecinta Alam yang direncanakan berlangsung pada April mendatang juga menjadi salah satu agenda yang dibahas dalam konsolidasi tersebut. Para peserta berharap momentum itu dapat menjadi sarana mempertemukan kembali berbagai organisasi pecinta alam serta memperkuat eksistensi gerakan lingkungan di Sulawesi Selatan.

Anwar dari Chipipax Indonesia menilai agenda tersebut menjadi peluang penting bagi komunitas pecinta alam di Sulawesi Selatan untuk memperkuat solidaritas gerakan serta membangun kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. “SULSEL masih ada agenda yang harus dikerjakan. Kita akan menjadi tuan rumah kongres pecinta alam, itu peluang besar untuk membangkitkan kembali eksistensi pecinta alam di Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Fasilitator kegiatan, Agung dari KOPSA, menambahkan bahwa berbagai refleksi dan keresahan yang muncul dalam diskusi akan dirumuskan menjadi materi kurikulum peningkatan kapasitas pada kegiatan jambore mendatang. Hal ini diharapkan mampu memperkuat pengetahuan dan kesadaran kritis anggota organisasi pecinta alam terhadap isu-isu lingkungan.

Konsolidasi pecinta alam tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan hidup. Para peserta sepakat bahwa gerakan pecinta alam tidak hanya sebatas aktivitas menjelajah alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kelestarian lingkungan serta memperjuangkan keberlanjutan ekosistem.

Kegiatan kemudian diakhiri dengan agenda buka puasa bersama para peserta sebagai bentuk kebersamaan sekaligus penutup rangkaian diskusi panjang yang membahas refleksi, evaluasi, serta perencanaan gerakan advokasi lingkungan hidup ke depan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....