Mudik Lebaran, Kemenag Sulsel Siapkan Ratusan Masjid untuk Tempat Istirahat
- 12 Mar 2026 14:05 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Menjelang arus mudik Lebaran 2026, masyarakat diimbau untuk lebih mengutamakan keselamatan selama perjalanan pulang kampung. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, mengingatkan para pemudik agar tidak memaksakan diri berkendara ketika tubuh sudah lelah di tengah perjalanan mudik Idulfitri 1447 Hijriah.
Imbauan tersebut disampaikan Ali Yafid saat memimpin rapat koordinasi persiapan libur Lebaran bersama seluruh jajaran Kementerian Agama Sulawesi Selatan yang digelar secara daring melalui Zoom pada Kamis, 12 Maret 2026. Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa keselamatan selama perjalanan mudik harus menjadi prioritas utama bagi masyarakat.
Menurutnya, jika pemudik mulai merasa lelah saat berkendara, sebaiknya segera mencari tempat istirahat yang aman dan tidak memaksakan diri melanjutkan perjalanan. Ia menjelaskan bahwa Kemenag Sulsel telah menyiapkan ratusan rumah ibadah yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat singgah sementara selama perjalanan mudik berlangsung.
“Kalau capek dalam perjalanan mudik, sebaiknya singgah dulu untuk beristirahat. Kami telah menyiapkan ratusan rumah ibadah di sepanjang jalur utama yang siap melayani para pemudik selama 24 jam pada masa arus mudik maupun arus balik Lebaran 2026,” ujar Ali Yafid.
Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini tercatat sebanyak 517 rumah ibadah yang telah menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dalam program layanan bagi pemudik. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang tercatat sekitar 492 masjid di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
Selain masjid, sejumlah madrasah serta Kantor Urusan Agama (KUA) yang berada di sepanjang jalur utama mudik di wilayah kabupaten dan kota juga turut disiapkan untuk memberikan layanan kepada masyarakat yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Rumah-rumah ibadah tersebut nantinya akan berfungsi sebagai tempat singgah sementara bagi para pemudik yang membutuhkan waktu untuk beristirahat, menunaikan ibadah, ataupun sekadar melepas lelah sebelum kembali melanjutkan perjalanan mudik ke kampung halaman.
Ali Yafid juga meminta seluruh jajaran Kementerian Agama di tingkat kabupaten dan kota untuk memastikan kesiapan rumah ibadah yang berada di sepanjang jalur mudik. Menurutnya, lokasi yang menjadi titik singgah pemudik harus benar-benar siap melayani masyarakat selama periode perjalanan Lebaran.
Ia juga menegaskan pentingnya memasang penanda seperti baliho atau spanduk di lokasi yang telah ditetapkan sebagai titik layanan bagi pemudik agar mudah dikenali oleh masyarakat yang melintas di jalur mudik.
“Kita ingin rumah-rumah ibadah yang berada di jalur mudik benar-benar siap melayani pemudik. Tempat-tempat ini diharapkan dapat dibuka selama 24 jam karena pemudik datang silih berganti sepanjang waktu,” ujarnya.
Selain kesiapan fasilitas, ia juga menekankan pentingnya pengaturan petugas yang berjaga untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para pemudik yang singgah. Menurutnya, kehadiran petugas sangat diperlukan agar masyarakat yang beristirahat tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan seperti kehilangan barang.
“Harus ada petugas yang berjaga agar keamanan tetap terjamin. Jangan sampai pemudik yang beristirahat justru mengalami kehilangan barang atau kejadian yang tidak diharapkan,” tegasnya.
Ali Yafid juga mendorong pengelola rumah ibadah untuk menyediakan fasilitas dasar bagi pemudik, terlebih perjalanan mudik tahun ini berlangsung di tengah suasana Ramadan. Ia berharap jika memungkinkan, masjid dapat menyediakan takjil bagi pemudik yang berbuka puasa di perjalanan.
“Jika memungkinkan, bisa disiapkan takjil untuk berbuka puasa bagi pemudik, serta makanan sederhana atau minuman untuk sahur. Ini merupakan bentuk pelayanan kemanusiaan sekaligus kepedulian sosial kepada masyarakat yang sedang melakukan perjalanan mudik,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa seluruh layanan yang diberikan kepada pemudik harus bersifat gratis dan tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk mengambil keuntungan. Oleh karena itu, ia meminta agar pengelola rumah ibadah berkoordinasi dengan aparat setempat untuk memastikan layanan tersebut benar-benar bebas biaya.
Selain itu, Ali Yafid juga mendorong agar beberapa masjid dapat menyediakan fasilitas tambahan untuk meningkatkan kenyamanan pemudik. Fasilitas tersebut antara lain pengisian daya telepon seluler, ruang khusus bagi ibu menyusui, hingga layanan sederhana seperti tambal ban, pengisian angin kendaraan, obat-obatan ringan, bahkan kerja sama dengan puskesmas terdekat untuk layanan kesehatan dasar.
Menurutnya, pelaksanaan program layanan bagi pemudik tahun ini juga melibatkan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga. Rumah ibadah yang menjadi titik layanan berada di sepanjang jalur mudik nasional, dengan dukungan dari Kementerian Perhubungan serta Kepolisian Republik Indonesia untuk memastikan kelancaran perjalanan masyarakat selama musim mudik Lebaran.
Dengan adanya fasilitas tersebut, diharapkan para pemudik dapat melakukan perjalanan dengan lebih aman, nyaman, dan tetap menjaga kondisi fisik selama menempuh perjalanan panjang menuju kampung halaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....