Malam Gerhana di Kampus Unismuh: Salat Khusuf Berjamaah, Khutbah Ajak Perbanyak Doa
- 04 Mar 2026 09:56 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Sivitas Akademika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar melaksanakan Salat Gerhana Bulan (Khusuf) berjamaah di Masjid Subulussalam Al-Khoory, Selasa malam, 3 Maret 2026, bertepatan dengan 14 Ramadan 1447 H (KHGT). Ibadah ini digelar menyusul terjadinya Gerhana Bulan Total yang dapat disaksikan di wilayah Sulawesi Selatan saat azan Magrib berkumandang hingga memasuki waktu Isya.
Bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan Salat Khusuf adalah Imam Ahmad Fauzan, sementara khutbah disampaikan oleh Dr. KH. Abbas Baco Miro, Lc., M.A.
Khutbah: Gerhana adalah Tanda Kebesaran Allah
Dr. KH. Abbas Baco Miro mengingatkan bahwa gerhana adalah ayat (tanda) kebesaran Allah dan bagian dari sunnatullah ketetapan Allah yang mengatur keteraturan alam. Ia menegaskan bahwa matahari dan bulan tidak bergerak “sendiri”, melainkan ciptaan Allah yang berjalan menurut hukum-Nya. Hal ini sejalan dengan firman Allah:
Ia mengutip firman Allah tentang peredaran matahari dan bulan sebagai bagian dari sunnatullah—hukum Allah yang berlaku tetap di alam semesta. Matahari dan bulan bukanlah entitas yang bergerak sendiri, melainkan ciptaan Allah yang tunduk pada ketetapan-Nya. “Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan; masing-masing beredar pada garis edarnya,” tandas Abbas mengutip Surah Al-Anbiya ayat 33.
Ia melanjutkan, “gerhana bukan karena kematian seseorang atau peristiwa tertentu,” tegasnya, merujuk pada hadis Nabi SAW yang meluruskan keyakinan masyarakat Arab saat itu. Rasulullah SAW menegaskan bahwa gerhana adalah tanda kebesaran Allah, bukan pertanda kematian atau mitos tertentu.
Menurut Abbas, saat gerhana umat dianjurkan memperbanyak amal dengan melaksanakan salat, memperbanyak doa, memohon ampunan, serta bersedekah. Ia menyebut momen gerhana sebagai waktu baik untuk memperkuat kedekatan kepada Allah dan merawat kepekaan sosial.
Menurut Abbas, waktu terjadinya gerhana termasuk momentum mustajab untuk berdoa. “Inilah kesempatan terbaik bagi kita menyampaikan hajat-hajat kita kepada Allah SWT,” ujarnya.
Ajakan Bersedekah dan Muhasabah
Selain memperbanyak doa, KH. Abbas juga mengajak jamaah untuk memperbanyak sedekah sebagai bentuk kepedulian sosial. Ia mengingatkan bahwa ibadah gerhana bukan sekadar ritual, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menumbuhkan kepekaan terhadap sesama.
Rangkaian ibadah malam itu menjadi satu kesatuan spiritual: berbuka puasa, Salat Magrib, Salat Isya, Salat Gerhana, hingga Tarawih. Seluruhnya menghadirkan suasana Ramadan yang penuh makna.
Keteladanan Rasulullah SAW
Dalam khutbahnya, KH. Abbas juga mengisahkan peristiwa wafatnya putra Rasulullah SAW, Ibrahim, yang bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari. Saat itu, sebagian orang mengaitkan gerhana dengan wafatnya Ibrahim. Namun Rasulullah SAW dengan tegas meluruskan, bahwa gerhana tidak berkaitan dengan kematian atau kelahiran seseorang.
Rasulullah tetap menunjukkan keteguhan iman dan ketundukan kepada Allah dalam suasana duka. Tangisan beliau disebut sebagai “rahmat”, ungkapan kasih sayang manusiawi, namun tidak keluar dari keridaan kepada ketetapan Allah.
Kisah ini menjadi pelajaran bahwa fenomena alam tidak boleh disikapi secara mistis atau irasional, melainkan sebagai tanda kebesaran Allah yang menguatkan tauhid dan ketundukan seorang hamba.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....