Pentingnya Naskah Lontara dalam Menjaga Identitas Masyarakat Jeneponto
- 19 Nov 2025 22:52 WIB
- Makassar
KBRN, Makassar: Naskah Lontara, sebagai salah satu warisan budaya tertulis masyarakat Bugis-Makassar, memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga memori kolektif dan identitas masyarakat di Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto. Dalam konteks modern, ketika arus globalisasi semakin kuat, keberadaan Lontara menjadi penopang utama untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang mulai tergerus zaman. Tradisi literasi lokal ini bukan hanya menyimpan catatan sejarah, tetapi juga menyampaikan nilai moral, adat istiadat, serta pemikiran leluhur.
Dalam obrolan Apresisasi Budaya Lokal di Pro 4 RRI Makassar (Senin, 17/11/2025), Dosen Departemen Sastra Daerah FIB Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Muhlis Badrawi, S.S., M.Hum, menjelaskan bahwa Lontara merupakan “akar yang menjaga masyarakat tetap terhubung dengan identitasnya.” Menurutnya, naskah kuno ini berfungsi sebagai dokumentasi autentik perjalanan sosial, politik, dan budaya masyarakat. “Tanpa Lontara, sebagian besar sejarah lokal akan hilang atau hanya hidup dalam cerita lisan yang mudah berubah,” ujarnya.
Di Jeneponto, Lontara menjadi sumber informasi penting tentang asal-usul komunitas, struktur pemerintahan tradisional, sistem kekerabatan, hingga aturan adat yang telah diwariskan turun-temurun. Melalui naskah-naskah tersebut, generasi masa kini dapat memahami bagaimana leluhur mereka membangun nilai, menjaga harmoni sosial, serta memandang kehidupan. Prof. Muhlis menegaskan bahwa kekayaan pengetahuan dalam Lontara merupakan pedoman yang relevan untuk memaknai identitas lokal di tengah perkembangan modern.
Lebih jauh, Prof. Muhlis menyoroti bahwa upaya pelestarian Lontara tidak bisa berhenti pada tahap penyimpanan fisik saja. Ia menekankan perlunya digitalisasi, penelitian berkelanjutan, serta integrasi Lontara dalam pendidikan budaya lokal. “Jika Lontara hanya disimpan tanpa dipelajari, maka fungsinya sebagai sarana pewarisan budaya akan berkurang,” jelasnya. Oleh karena itu, kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi kunci untuk melestarikan warisan ini.
Tantangan terbesar saat ini, menurut Prof. Muhlis, adalah menurunnya kemampuan generasi muda dalam membaca dan memahami aksara Lontara. Kondisi tersebut membuat sebagian besar isi naskah sulit diakses oleh masyarakat umum. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan program pelatihan, lokakarya, serta pengenalan aksara Lontara di sekolah-sekolah, khususnya di wilayah yang memiliki akar budaya kuat seperti Jeneponto.
Prof. Muhlis menutup penjelasannya dengan harapan agar masyarakat Jeneponto terus menjaga warisan ini sebagai bagian penting dari jati diri mereka. “Lontara bukan hanya teks, tetapi cermin peradaban,” tegasnya. Dengan memperkuat pelestarian Lontara, masyarakat tidak hanya menjaga memori leluhur, tetapi juga memastikan bahwa identitas budaya Jeneponto tetap hidup dan dikenali di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....