Gotong Royong Mayarakat Bugis Melalui Tradisi Mappalette Bola

  • 27 Okt 2025 05:44 WIB
  •  Makassar

KBRN, Wajo: Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Tradisi gotong royong seperti pepatah ini mungkin sudah usang di kota-kota yang makin sibuk dan makin individualis. Namun, tradisi yang memupuk semangat kebersamaan antarsesama warga ini tetap langgeng di tengah kehidupan Suku Bugis, Sulawesi Barat.

Kebersamaan itu terlihat ketika warga Desa Ongkoe Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo saat Memindahkan rumah panggung yaitu rumah berbobot puluhan ton. Dengan kerja sama secara bergotong-royong, rumah panggung ini dengan mudah diangkat dan digeser pemiliknya ke tempat yang dikehendaki.

Ratusan warga tersebut beramai-ramai mendatangi rumah milik Lapadu di lingkungan Desa Ongkoe, Kecamatan Belawa, Jumat,24/10/2025. Tanpa diupah atau dibayar sepersen pun, mereka datang secara sukarela untuk membantu mengangkat dan memindahkan rumah sejauh empat meter dari lokasi saat ini. Untuk meminta bantuan warga, pemilik hajatan tak perlu repot mengundang warga secara khusus di rumahnya satu per satu.

Cukup mengumumkan lewat pengeras suara di masjid, warga ringan tangan datang membantu sanak tetangga yang membutuhkan bantuan pada hari yang sudah ditentukan. Sebagian warga atau pemilik hajatan juga kerap memanfaatkan hari Jumat sebagai hari kesetiakawanan sosial, hari gotong-royong, Tradisi ini dikenal di masyarakat Bugis dengan Tradisi Mappalete Bola.

Tradisi Mappalette bola dalam bahasa Bugis bermakna kebersamaan dan saling tolong-menolong dalam memindahkan Rumah panggung. Hingga kini, tradisi itu tetap lestari dan menjadi ciri khas warga suku Bugis.

Andi Bau Erwin Budayawan Bugis Asal Belawa, saat di hubungi oleh RRI menjelaskan bahwa Mappalette Bola adalah tradisi gotong royong masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan untuk memindahkan rumah secara bersama, Pemilik rumah pun tak perlu repot mengeluarkan biaya sebab warga membantu tanpa meminta imbalan. Pemilik rumah biasanya hanya menyiapkan makanan atau minuman ringan berupa segelas cendol atau bubur kacang hijau yang disuguhkan kepada warga seusai bekerja. Makanan manis yang disuguhkan kepada warga itu memiliki makna filosofis tersendiri.

“Konon tardisi menyuguhkan makanan yang manis-manis kepada para tetamu adalah ungkapan kesyukuran dan kebahagiaan dalam memupuk kebersamaan antarwarga dan pemilik hajatan." Ujar Andi Erwin

Andi Erwin juga menyebutkan, banyak persoalan masyarakat seperti mengangkat dan memindahkan rumah bahkan saat mendirikan rumah panggung biasanya diselesaikan secara gotong-royong. "Alhamdulillah semangat gotong-royong dan kebersamaan di tengah masyarakat Belawa hingga kini masih terpelihara. Warga yang datang memberi pertolongan kepada tetangga atau sekampungnya datang tanpa melihat latar belakang kehidupan sosial, agama, suku, dan bahasanya," Tutupnya.

Proses pengangkatan dan pemindahan rumah umumnya dipimpin oleh seorang Panrita Bola ( Kepala Tukang) untuk memberi aba-aba dan mengarahkan warga. Sang Panrita Bola akan meneriakan semacam mantra agar para warga kuat memidahkan rumah hingga sampai ke lokasi yang baru. panrita Bola pula yang akan memberikan aba-aba kapan harus mengangkat, berjalan, kecepatan langkah dan sebagainya.

Setelah setahun menempati lokasi rumah baru, suku Bugis akan melakukan upacara Maccera Bola yakni kegiatan untuk menolak bala dengan cara menyapukan darah ayam pada tiang-tiang rumah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....