Mengenal Tari Manimbong, Tarian Syukuran Suku Toraja

  • 01 Okt 2025 13:26 WIB
  •  Makassar

KBRN, Makassar : Tari Manimbong merupakan salah satu tarian tradisional dari suku Toraja, Sulawesi Selatan. tarian ini tidak sekedar hiburan, melainkan bentuk ibadat karena sarat dengan doa-doa pengucap syukur. Dalam pelaksanaannya, Tari Manimbong ini memiliki ciri khas yang membedakannya dari tarian adat lain.

Melansir dari publikasi instagram.com/budayamaraja, pementasan tarian ini umumnya melibatkan sekitar 20 hingga 30 penari pria. Tarian tersebut kerap dibawakan bersama tari Ma’dandan, yang diperankan oleh para wanita, sehingga menghadirkan keselarasan gerak antara dua kelompok.

Para penari biasanya memasuki pelataran Tongkonan dengan berbaris rapi. Kehadiran mereka disertai hentakan tongkat dan bunyi alat tradisional yang disebut simbong atau okkoh-okkoh. Setelah berada di pelataran, mereka membentuk barisan dan menampilkan variasi gerakan dengan pola yang sudah ditentukan.

Terdapat delapan kategori gerakan dalam Tari Manimbong, antara lain Pa’Tambolang, Pa’ Male-Male, hingga Pa’ Bukka. Setiap gerakan memiliki makna tersendiri yang mencerminkan rasa syukur, persatuan, serta kekuatan masyarakat Toraja. Variasi ini menjadikan tarian tarian tersebut menjadi dinamis sekaligus penuh simbolik.

Keunikan lain dari Tari Manimbong terletak pada pengiringnya. Tidak seperti tarian lain yang biasanya menggunakan alat musik melodis, tarian ini justru diiringi oleh sarong simbong, yaitu sejenis tameng kecil dengan ukiran khas Toraja. Tameng tersebut menghasilkan bunyi ketukan ritmis, sementara para penari juga melantunkan syair vokal sederhana sebagai ungkapan syukur.

Kostum yang digunakan para penari pun sarat dengan makna budaya. Mereka mengenalkan Bayu Pokko’, Seppa Tallu Buku, serta selempang kain tua yang disebut mawa’. Hiasan kepala dari bulu burung atau ayam turut melengkapi penampilan, ditambah perlengkapan berupa parang kuno (la’bo’pinai) dan tameng kecil yang digunakan dalam gerakan tarian.

Hingga kini, Tari Manimbong masih dijaga kelestariannya oleh masyarakat Toraja melalui aturan adat. Namun, tarian ini kurang dikenal luas di luar daerah  Toraja karena biasanya hanya dipertunjukkan pada bulan-bulan tertentu yang tidak bertepatan dengan hari libur nasional. Meski demikian, keberadaanya tetap menjadi simbol penting identitas budaya Toraja. (Risky Amba Rarung / Magang RRI)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....