Ini Alasan Kota Pare-pare Dijuluki Kota Bandar Madani
- 28 Sep 2025 15:39 WIB
- Makassar
KBRN,Makassar : Kota Pare-pare di Sulawesi Selatan semakin dikenal luas dengan julukan Kota Bandar Madani. Julukan ini tidak sekadar kata manis, melainkan mencerminkan aspirasi dan identitas kota yang berusaha membangun kesejahteraan melalui tatanan budaya, ekonomi, dan pemerintahan yang berbasis pada nilai-nilai madani. Julukan ini muncul sebagai upaya memperkuat brand kota dan sekaligus sebagai cerminan dari perkembangan kota yang dinamis dalam berbagai sektor.
Dikutip dari laman development.pareparekota.go.id, Secara geografis Pare-Pare memiliki keunggulan sebagai kota pelabuhan yang strategis. Kota ini terletak di tepi Selat Makassar, yang memungkinkan akses transportasi laut yang cukup penting untuk perdagangan antar pulau. Letaknya yang menghadap ke laut dan terlindung oleh tanjung membuat pelabuhan di Pare-Pare lebih aman dari ombak besar, menjadikannya tempat yang potensial sebagai bandar atau pelabuhan yang berkembang.
Sejarah Pare-Pare mulai terbentuk dari alamnya yang keras dan kasar. Dahulu wilayah Pare-Pare merupakan daerah semak belukar yang diselingi lubang-lubang tanah agak miring, tumbuh liar dan tidak teratur dari utara (Cappa Ujung) hingga ke selatan kota. Proses inilah yang kemudian berubah pelan-pelan menjadi pemukiman, berkembang menjadi kota.
Kata “Parepare” sendiri diperkirakan muncul dari ungkapan “Bajiki Ni Pare” yang diucapkan oleh Raja Gowa saat berkunjung ke daerah ini dari kerajaan Bacukiki ke kerajaan Soreang. Ungkapan dalam bahasa Bugis tersebut memiliki arti kurang lebih “pelabuhan ini dibuat dengan baik” atau “tempat pelabuhan yang baik”. Sejak itu, nama Parepare melekat dan berkembang, terutama sebagai pelabuhan penting di kawasan Suppa.
Dalam perkembangannya, Parepare telah resmi menjadi daerah otonom sejak 17 Februari 1960, saat itu setingkat kotamadya, dan kemudian berubah statusnya menjadi kota melalui regulasi pemerintah daerah sesuai perubahan undang-undang. Luasnya kota kurang lebih 99,33 kilometer persegi dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, yang kini mencerminkan kota kecil yang padat aktivitasnya, ekonomi, dan budaya.
Keberagaman juga menjadi ciri Pare-Pare. Penduduknya terdiri dari berbagai etnis seperti Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, dan beberapa kelompok lainnya. Bahasa Bugis dialek Parepare umum digunakan. Disamping itu, kepedulian terhadap aspek pendidikan, fasilitas publik, serta lingkungan hidup seperti Kebun Raya Jompie turut menunjang gambaran Parepare sebagai kota yang Madani kota yang bukan hanya maju tetapi juga ramah, teratur, dan humanis.
Dengan segala sejarah, lokasi strategis, budaya, dan identitas “Bandar Madani”, Pare-Pare punya peluang besar untuk menjadi destinasi wisata, pusat ekonomi kreatif, sekaligus kota teladan dalam pengelolaan kota pesisir yang seimbang antara modernitas dan nilai-nilai lokal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....