Vibes Syahdu Ramadan di Jogja Berburu Takjil hingga Toleransi yang Menghangatkan
- 16 Mar 2026 11:08 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID,Makassar – Program spesial KURMA (Kisah Unik Ramadhan) edisi Minggu, 15 Maret 2026, kembali hadir menemani pemirsa dengan cerita inspiratif dari berbagai sudut negeri. Dipandu oleh presenter Arfan Yusri, episode kali ini terasa istimewa karena terhubung langsung melalui sambungan telepon dengan konten kreator asal Yogyakarta, Jordan Yossa. Dalam perbincangan hangat tersebut, Jordan membagikan potret eksotis dan kemeriahan suasana bulan suci di kota pelajar yang selalu memiliki magnet tersendiri bagi siapa saja.
Jordan mengungkapkan bahwa Ramadan di Yogyakarta bukan sekadar ritual ibadah umat islam, melainkan sebuah pesta budaya yang menyatukan seluruh elemen Masyarakat Jogja. Menurutnya, atmosfer kota berubah menjadi jauh lebih tenang namun tetap hidup, terutama saat sore hari menjelang waktu berbuka puasa. "Vibes Ramadan di Jogja itu magis menurut saya, ada perpaduan antara kesederhanaan masyarakat, tradisi keraton, dan antusiasme anak mudanya yang membuat suasana buka puasa di sini selalu terasa spesial setiap tahunnya,seperti diketahui kalua Jogja identic sebagai Kota Pelajar jadi semua daerah kayaknya terwakili disini," ujar Jordan.
Salah satu daya tarik utama yang dibahas adalah titik-titik andalan untuk berburu takjil yang tersebar di penjuru kota Jogja. Jordan merekomendasikan Kampung Ramadhan Kauman dan Lembah UGM sebagai destinasi wajib dikunjungi. Ia menjelaskan bahwa di tempat-tempat tersebut, pengunjung bisa menemukan kuliner legendaris yang hanya muncul saat bulan puasa. Kerumunan warga yang mengantre dengan tertib di gang-gang sempit menjadi pemandangan unik yang menunjukkan sisi humanis masyarakat setempat.
Tak hanya soal makanan, Jordan juga menyoroti bagaimana indahnya toleransi yang tercipta selama bulan Ramadan di Yogyakarta. Ia menceritakan bahwa kemeriahan berburu takjil dan pasar kaget tidak hanya dinikmati oleh umat Muslim saja. Banyak warga non-Muslim yang ikut tumpah ruah ke jalanan untuk menikmati kuliner sore hari. "Di sini, berburu takjil itu sudah jadi kegiatan lintas agama. Teman-teman non-Muslim pun ikut antusias ngantre jajanan, bahkan kadang mereka lebih gercep tahu spot makanan enak daripada kita,saya pun mudah mendapatkan takjil khas makassar disini seperti pisang ijo,pallu butung bahkan coto makassar," selorohnya diiringi tawa.
Fenomena "War Takjil" yang sempat viral di media sosial pun dirasakan langsung oleh Jordan di Yogyakarta, namun dalam versi yang sangat rukun dan penuh keakraban. Baginya, momen ramadan ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya akar kerukunan di Jogja. Perbedaan keyakinan seolah melebur di balik aroma bakaran sate atau segarnya es dawet yang dijajakan di pinggir jalan. Hal inilah yang membuat Ramadan di Jogja selalu dirindukan karena rasa kekeluargaannya yang sangat kental dan tulus.
Selain pasar takjil, Jordan juga menyinggung tentang tradisi berbuka bersama di masjid-masjid besar seperti Masjid Gedhe Kauman atau Masjid Jogokariyan yang legendaris dengan ribuan porsi piring gulainya. Ia memuji manajemen masjid yang sangat rapi dalam menyambut tamu dari berbagai kalangan tanpa memandang status sosial. “Kemudahan mendapatkan makanan dan suasana spiritual yang inklusif membuat siapa pun, termasuk wisatawan, merasa diterima dengan tangan terbuka disana,” tambah Jordan.
Menutup sesi bincang-bincang di program KURMA, Jordan mengajak para penonton untuk setidaknya sekali seumur hidup merasakan pengalaman Ramadan di Yogyakarta. “Bagi saya, Jogja bukan sekadar tempat untuk pulang, tapi juga tempat untuk belajar tentang arti berbagi dan menghargai dalam keberagaman yang nyata. Ramadan di Jogja itu tentang rasa. Bukan cuma soal menahan lapar, tapi soal bagaimana kita menikmati kebersamaan di tengah perbedaan yang ada," tutup Jordan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....