Air Mata Taubat, Jalan Menjemput Ampunan Ramadhan

  • 10 Mar 2026 22:30 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Bulan Ramadhan menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk kembali mendekat kepada Allah SWT dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu. Salah satu bentuk ketulusan taubat yang sering disebut dalam Al-Qur’an maupun hadis adalah air mata yang jatuh karena penyesalan dan harapan akan ampunan dari Allah.

Dalam wawancara di program “Special Ramadhan Pro 2 Makassar: Tanya Pak Ustadz”, Ustaz Dr. Abdul Ghany, S.ThI., M.ThI menjelaskan bahwa air mata memiliki makna yang sangat dalam dalam proses taubat seorang hamba. "Dalam Al-Qur’an dan hadis, air mata sering dikaitkan dengan orang-orang yang benar-benar kembali kepada Allah. Bahkan dalam salah satu ayat disebutkan bahwa orang yang menangis karena memohon ampun kepada Allah SWT akan dijauhkan dari api neraka, "ungkapnya. Selasa, 10 Maret 2026.

“Air mata dalam taubat itu luar biasa nilainya. Dalam Al-Qur’an maupun hadis, disebutkan bahwa orang yang menangis kemudian memohon ampun kepada Allah SWT, maka ia akan diharamkan disentuh oleh api neraka,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ustaz Abdul Ghany menerangkan bahwa secara bahasa, taubat dalam bahasa Arab bermakna kembali. Namun makna ini tidak hanya menggambarkan manusia yang kembali kepada Allah, tetapi juga Allah yang kembali kepada hamba-Nya dengan memberikan rahmat dan pengampunan.

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah dalam Surah Al-Baqarah yang menunjukkan bahwa Allah sendiri memanggil manusia agar segera kembali kepada-Nya dan menjemput ampunan-Nya. “Jadi bukan hanya manusia yang kembali kepada Allah, tetapi Allah juga yang menginginkan kita kembali kepada-Nya. Allah sendiri yang meminta kita untuk menjemput pengampunan-Nya,” tambahnya.

Menurutnya, bulan Ramadhan merupakan waktu yang sangat istimewa untuk memohon ampunan. Pada siang hari, umat Islam mendapatkan keutamaan melalui ibadah puasa yang dapat menghapus dosa. Sementara pada malam hari, ampunan juga dijanjikan bagi mereka yang menghidupkan malam dengan ibadah, seperti shalat malam.

“Barang siapa yang berpuasa dengan sungguh-sungguh, maka dosa-dosanya akan dihapuskan. Begitu juga orang yang menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat, maka akan diampuni dosa-dosanya,” jelasnya.

Keutamaan tersebut bahkan semakin ditekankan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, ketika umat Islam dianjurkan untuk lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ustaz Abdul Ghany mengibaratkan kondisi hati manusia seperti perangkat elektronik yang penuh dengan data. Jika terlalu banyak dosa yang menumpuk, hati akan menjadi gelap dan sulit menerima cahaya kebaikan.

“Kalau diibaratkan seperti handphone, ketika memori sudah terlalu penuh, kinerjanya akan melambat. Begitu juga manusia. Jika dosa terlalu banyak, hati menjadi penuh dengan noda hitam sehingga cahaya sulit masuk,” katanya.

Karena itu, Ramadhan menjadi kesempatan terbaik bagi setiap Muslim untuk membersihkan hati melalui taubat, memperbanyak ibadah, dan memohon ampunan kepada Allah SWT. “Ramadhan adalah waktu ketika Allah seolah-olah ‘mengobral’ pengampunan-Nya. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya untuk kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh,” pungkasnya.

Sebagai bulan penuh rahmat dan maghfirah, Ramadhan menjadi pengingat bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah. Air mata penyesalan yang jatuh dengan tulus bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kesadaran seorang hamba yang ingin memperbaiki diri dan menjemput ampunan-Nya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....