Pentingnya Istigfar Sebagai Pengangkat Derajat dan Penghapus Dosa
- 10 Mar 2026 10:22 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID, Makassar - Menjaga kesucian rohani merupakan bagian penting dalam ibadah, terutama di bulan suci Ramadan. Dr. H. Maskur Yusuf dalam ceramahnya di hadapan jamaah tarawih di Mesjid Raya Makassar, Minggu 1 Maret 2026 menjelaskan bahwa salah satu cara utama Nabi Muhammad SAW menjaga kesucian batinnya adalah dengan tidak pernah putus berzikir dalam setiap kesempatan. "Cara Nabi menjaga kesucian rohaninya adalah dengan tidak pernah tidak berzikir. Hampir semua waktu digunakan berzikir, dan semua perbuatan yang dilakukan selalu disertai zikir, terutama istigfar," ungkap Dr. Maskur Yusuf.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa Rasulullah SAW menunjukkan konsistensi yang luar biasa dalam memohon ampunan kepada Allah SWT. "Nabi selalu beristigfar dan mohon ampun kepada Allah. Baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, Nabi tetap konsisten memohon ampunan," jelasnya.
Diungkapkan bahwa, fenomena ini pernah memancing rasa penasaran di kalangan sahabat Nabi. Dr. Maskur menceritakan sebuah riwayat di mana sahabat bertanya-tanya mengapa sosok semulia Rasulullah, yang sudah dijamin terjaga dari dosa atau maksum, masih begitu sibuk memohon ampunan kepada Sang Pencipta.
"Suatu ketika sahabat bertanya, mengapa Rasulullah masih sibuk beristigfar padahal beliau sudah maksum atau terjaga dari segala dosa," tuturnya.
Dr. Maskur menyoroti kecenderungan manusia saat ini tidak mau beristigfar jika merasa tidak melakukan kesalahan besar. "Kalau kita yang dianggap bebas dari dosa, mungkin merasa tidak perlu lagi mohon ampun kepada Allah karena merasa sudah aman. Namun, Nabi tetap melakukan istigfar dengan alasan yang jauh lebih mendalam," tegasnya.
Dijelaskan, manfaat ganda dari amalan istigfar bagi umat Islam secara umum, selain sebagai penggugur dosa bagi mereka yang melakukan kesalahan, istigfar juga berfungsi sebagai pengangkat derajat."Beristigfar itu jika kita punya dosa, maka Allah akan mengampuni kita. Namun, jika kita merasa tidak punya dosa, maka dengan istigfar itu kita akan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala," katanya.
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh jamaah untuk berkaca pada rutinitas ibadah harian Nabi yang beristigfar hingga seratus kali dalam sehari. Hal ini menjadi teguran bagi umat yang sering lalai, mengingat manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan setiap harinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....