Kemuliaan dan Keistimewaan Umat Nabi Muhammad SAW

  • 28 Feb 2026 14:12 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar melalui kanal Pro 1 dan Pro 4 menyiarkan secara langsung prosesi ibadah salat Jumat dari Masjid Al-Muawanah RRI, Jumat 27 Februari 2026. Bertindak sebagai khatib, Ust. Muhammad Jamil, Lc., MA., mengupas tuntas tema mengenai kemuliaan dan keistimewaan yang diberikan Allah SWT khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Dalam khutbahnya, Ust. Muhammad Jamil menekankan bahwa kita hidup di ekosistem serba terbaik. Nabi yang diutus adalah manusia terbaik, wahyunya dibawa oleh pemimpin para malaikat (Malaikat Jibril), diturunkan di tempat terbaik (Mekah dan Madinah), serta pada waktu terbaik (Ramadan dan Lailatul Qadar).

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur'an, yang Artinya: “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah SWT. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Surat Ali Imran ayat 110). Kita adalah umat pilihan yang menyandang predikat terbaik di antara seluruh umat yang pernah ada," ujar Ust. Muhammad Jamil di atas mimbar.

Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah mengenai efisiensi amal. Secara kuantitas usia, umat Nabi Muhammad SAW tidak mungkin bersaing dengan umat terdahulu, seperti umat Nabi Nuh AS yang usianya mencapai ribuan tahun. "Rasulullah bersabda bahwa umur umatnya berkisar antara 60 hingga 70 tahun saja. Namun, Allah memberikan kompensasi berupa pahala yang berlipat ganda”, jelasnya. Beliau mencontohkan kemuliaan malam Lailatul Qadar yang nilai ibadahnya lebih baik dari 1.000 bulan atau setara dengan 83 tahun 4 bulan. Selain itu, setiap satu kebaikan yang dilakukan minimal diganjar 10 kali lipat, bahkan bisa mencapai 700 kali lipat hingga jumlah yang tak terbatas sesuai kehendak Allah.

Menutup khutbahnya, Ust. Muhammad Jamil memberikan catatan penting bagi masyarakat di zaman sekarang. Beliau mengingatkan bahwa besarnya pahala tidak hanya dilihat dari apa amalannya, tetapi juga siapa yang mengamalkannya. Meskipun secara umum umat Nabi Muhammad dijamin masuk surga, namun tingkatannya berbeda-beda.

Level Tertinggi yaitu Golongan yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, Level Menengah yaitu Golongan yang melalui proses hisab dan Level Terendah adalah Golongan yang harus merasakan sapaan api neraka terlebih dahulu untuk membersihkan dosa-dosanya sebelum masuk surga.Perbedaan perolehan pahala ini sangat bergantung pada ketulusan, keimanan, dan kualitas batin sang hamba saat menjalankan ibadah tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....