Beda Pendapat tanpa Putus Silaturahmi
- 26 Feb 2026 14:33 WIB
- Makassar
RRI.CO.ID , Makassar - Perbedaan pendapat kerap menjadi pemicu renggangnya hubungan pertemanan. Tak jarang, perdebatan yang awalnya terjadi di grup percakapan berlanjut menjadi kecanggungan saat bertemu langsung. Fenomena ini disoroti oleh Dr. Rahmat Hamid, S.Q., M.Ag dalam program “Tanya Pak Ustadz” Special Ramadhan di Pro 2 RRI Makassar.
Menurutnya, perdebatan yang berujung canggung biasanya sudah bercampur dengan ego masing-masing pihak. “Diskusi itu seharusnya diniatkan untuk saling memahami, bukan untuk saling menyalahkan. Kalau sudah saling menyalahkan, suasananya pasti tegang,” ujar Dr. Rahmat dalam siaran tersebut. Rabu, 25 Februari 2026.
Ia menekankan bahwa niat menjadi fondasi utama dalam berdialog. Ketika tujuan diskusi adalah mencari titik temu dan memperluas sudut pandang, maka perbedaan tidak akan mudah berubah menjadi konflik.
Dr. Rahmat juga mengingatkan agar masyarakat mampu membedakan antara kritik terhadap ide dan serangan terhadap pribadi seseorang. Kesalahan dalam memilih kata bisa membuat diskusi berubah menjadi ajang saling melukai.
Ia mencontohkan, alih-alih mengatakan, “Saya kurang setuju dengan idenya,” seseorang bisa menggunakan pendekatan yang lebih apresiatif seperti, “Kamu benar, tapi saya punya pendapat yang lain.”
Dengan cara itu, suasana dialog menjadi lebih terbuka dan tidak defensif. Lawan bicara pun merasa dihargai, sehingga peluang untuk saling memahami menjadi lebih besar. “Menjaga adab dalam berbicara itu sangat penting, apalagi ketika kita berbeda pendapat,” tambahnya.
Perdebatan di media sosial juga menjadi perhatian. Menurut Dr. Rahmat, komunikasi tertulis sangat rentan disalahartikan karena tidak ada intonasi suara maupun ekspresi wajah. “Di media sosial, orang mudah salah paham karena tidak ada nada dan ekspresi. Maka gunakan kata-kata yang lebih lembut, seperti ‘menurut saya’ atau ‘boleh jadi saya keliru’,” jelasnya.
Ia menyarankan agar perdebatan yang mulai memanas sebaiknya dihentikan. Tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan memenangkan argumen. Dalam pemaparannya, Dr. Rahmat juga mengutip nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an, bahwa Allah memuji orang-orang beriman yang ketika berhadapan dengan orang jahil, mereka menjawab dengan kata-kata yang baik atau memilih menjauh dengan cara yang terhormat.
Pesan tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama di era digital yang penuh opini dan perdebatan terbuka. “Pada akhirnya, menjaga ukhuwah itu lebih utama daripada memenangkan perdebatan,” tegasnya.
Program “Tanya Pak Ustadz” Special Ramadhan Pro 2 RRI Makassar menghadirkan berbagai tema aktual seputar kehidupan sehari-hari dengan perspektif keislaman yang menyejukkan. Tayangan lengkapnya dapat disaksikan melalui kanal YouTube Pro 2 RRI Makassar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....